Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Penurunan Harga Gas Diharap Jadi Solusi bagi Industri

Ekonomi gas perusahaan gas negara (pgn)
Ade Hapsari Lestarini • 03 Februari 2020 20:00
Jakarta: Pengurangan harga gas diharapkan menjadi salah satu solusi dalam mendorong industri-industri spesifik yang memang membutuhkan gas industri sebagai salah satu bahan baku dalam industri manufaktur mereka.
 
"Memang opsi ini bukan menjadi satu-satunya opsi yang ditawarkan oleh pemerintah, meskipun memang cara ini dianggap merupakan cara yang paling cepat dalam memberikan dampak pada industri terkait," kata ekonom Bank Permata Josua Pardede dalam keterangannya, Senin, 3 Februari 2020.
 
Namun demikian, penurunan
harga gas industri ini diprediksi bisa memengaruhi kinerja PT PGN Tbk. Menurut dia, salah satu dampak negatif dari kebijakan ini adalah dampaknya terhadap PGN yang menjadi supplier dari gas ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menjelaskan, adanya kebijakan ini akan mengakibatkan keuntungan dari PGN akan cenderung tergerus dan berdampak pada penilaian eksternal.
 
"Namun, tergerusnya keuntungan PGN diperkirakan tidak akan berdampak pada kepercayaan investor pada perusahaan di Indonesia, mengingat model bisnis PGN yang cenderung berbeda dibanding perusahaan manufaktur swasta lainnya," jelas dia.
 
Menurut dia, model bisnis berbeda yang dimaksud adalah dari sisi bagaimana harga dan kuantitas produk yang dijual cenderung bergantung pada kebijakan pemerintah.
 
"Berbeda dengan model bisnis pada industri manufaktur pada umumnya di mana harga dan kuantitas pada umumnya mengacu pada mekanisme pasar," jelas dia.
 
Di sisi lain, imbuh dia, apabila kelak harga dari sisi hulu cenderung turun, sedangkan harga hilir tetap, maka hal ini dapat menjadi kesempatan dari PGN untuk mendapatkan profit.
 
Josua menambahkan, rencana penurunan harga gas industri oleh pemerintah diharapkan oleh beberapa industri yang membutuhkan gas industri, seperti industri kaca dan keramik dapat menambah daya saing.
 
Daya saing itu diperlukan untuk menghadapi kompetitor dari sisi ekspor maupun kompetitor berbentuk impor dari luar negeri untuk penjualan domestik.
 
"Harga beli dari kedua gas dari kedua industri tersebut dinilai relatif mahal dibandingkan dengan harga di kawasan, yaitu sekitar USD9,1 per MMBTU," ujar dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif