Negara Lain Tertarik Skema <i>Gross Split</i> RI
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar di Kompleks Istana Presiden Medcom/Desi.
Jakarta: Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengkaim skema bagi hasil atau gross split yang diberlakukan Indonesia di sektor migas diminati negara lain.

Arcandra mengatakan saat dirinya menghadiri acara ministerial meeting di Singapura pekan lalu ada negara yang menyatakan ketertarikannya dengan kebijakan fiskal untuk investor migas tersebut.

"Waktu ministerial meeting di Singapura minggu lalu beberapa negara sangat tertarik dengan rezim fiskal kita yang baru, gross split," kata Arcandra di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Kamis, 15 November 2018.

Namun Arcandra enggan menyebutkan nama-nama negara tersebut. Meski demikian dirinya mengatakan kebijakan gross split yang diberlakukan di Indonesis dianggap sangat progresif. Hal ini sekaligus merespon mengenai kritik terkait gross split.

"Mereka anggap cara-cara ini sangat progresif, kita punya komitmen kerja pasti (KKP), blok kita udah laku yang gross split. Ini kenyataan, mau bukti apa lagi," tutur Arcandra.

Seperti diketahui pada awal Januari 2017 pemerintah merilis Permen ESDM No 8/2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Permen ESDM ini berlaku mulai 16 Januari 2017.

Dengan terbitnya aturan tersebut rezim pengembalian biaya operasi atau cost recovery untuk kontraktor migas tidak akan berlaku baik untuk blok eksisting yang kontraknya habis atau blok-blok baru.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, dengan skema gross split, pemerintah bisa mengurangi beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sebab biaya operasi tidak lagi dibebankan ke negara namun ke kontraktor migas.

Sejak diberlakukan sudah 30 blok yang telah menggunakan skema gross split. Arcandra mengatakan jumlah tersebut menunjukkan skema gross split makin dinikmati investor.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id