Ilustrasi. Foto : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Kilang LNG Masela Bakal Dibangun di Kabupaten Kepulauan Tanimbar

Ekonomi skk migas gas
Suci Sedya Utami • 05 November 2019 21:17
Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan Inpex Masela Ltd bakal membangun kilang gas alam cair atau liquid natural gas (LNG) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
 
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto bersama tim dan manajemen dari Inpex pun telah menyerahkan surat permohonan penetapan lokasi dan surat rekomendasi gubernur saat kunjungan kerja ke Maluku. Surat tersebut diserahkan ke Gubernur Maluku Murad Ismail disaksikan oleh Presiden Inpex Akihiro Watabe dan Ketua DPRD Provinsi Maluku Lucki Wattimury, di Ambon.
 
Dwi mengatakan proyek Masela wajib memperhatikan tiga hal, yaitu kualitas, jadwal, dan biaya. Menurut Dwi kualitas proyek menjadi penting mengingat keberadaan kilang LNG yang dibangun akan beroperasi dalam waktu yang lama atau setidaknya hingga 2055.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadwal itu juga penting, karena semakin cepat selesai maka hasilnya akan cepat kita nikmati, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemda dan masyarakat sekitar. Namun demikian untuk melakukan keduanya tetap harus memperhatikan biaya. Harus menggunakan biaya yang efesien," kata Dwi dalam keterangan resminya, Selasa, 5 November 2019.
 
Gubernur Maluku Murad Ismail mengatakan pihaknya mendukung penuh pembangunan dan mempercepat pembangunan proyek tersebut, agar dampak berganda dan manfaat kehadiran proyek dengan investasi sekitar USD18miliar – USD20 miliar dapat segera dirasakan masyarakat.
 
"Saya ingin pada 2020 Amdal dan pengadaan lahan dapat selesai. Sehingga di tahun berikutnya kegiatan fisik sudah dapat dimulai. Harapannya produksi gas bumi dapat disegerakan," ujar Murad.
 
Terkait proses Amdal, Pemprov Maluku mengaku siap untuk memberikan dukungan untuk mempercepat penyelesaian Amdal dan pengadan lahan.
 
Sebelumnya, Vice President Corporate Service Inpex Masela Nico Muhyiddin mengatakan pihaknya telah mendata kebutuhan yang diperlukan dari para calon pembeli potensial. Nico mengatakan di antaranya ke PT Persusahaan Gas Negara (PGN) dan PT PLN (Persero).
 
"Kami sedang menyusun assessment calon pembeli dari PGN, PLN dan lainnya. Kami sudah tanya butuhnya berapa," kata Nico, September lalu.
 
Kendati demikian, lanjutnya Nico, hal tersebut masih sebatas pembicaraan non formal. Dia bilang belum ada kontrak jual beli gas antara Inpex dan calon pembeli.
 
Selain PGN dan PLN, Inpex juga membuka peluang jual beli pada calon pembeli lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri. "Konsumen lokal atau luar tidak masalah," tutur dia.
 
Di sisi lain, Nico mengatakan saat ini pihaknya tengah membuat kerangka acuan kegiatan analisis dampak lingkungan (Amdal) pengembangan Lapangan Abadi. Ia bilang tengah berkonsultasi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) serta mengonsultasikan ke publik terutama di sekitar wilayah blok tersebut.
 
Apabila proses Amdal telah selesai, maka selanjutnya masuk ke tahap awal desain dan rekayasa (Front End Engineering Design/FEED). Inpex memperkirakan FEED membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk melakukan FEED yang akan dimulai pada 2020.
 
Kemudian keputusan investasi (Final Investment Decision/FID) dan terakhir teknik pengadaan konstruksi dan instalasi (Engineering, Procurement, Construction, and Installation/EPCI). "Kalau FEED bisa kami kontrol, yang berat setelah FID, karena melibatkan kontraktor juga kan," tambah dia.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif