Solar cell. MI/Rudi Kurniawansyah
Solar cell. MI/Rudi Kurniawansyah

Peralihan Energi Fosil ke EBT Butuh Waktu 10 Tahun

Ekonomi migas energi terbarukan
Gervin Nathaniel Purba • 17 Januari 2020 20:14
Jakarta: Energi baru dan terbarukan (EBT) akan menjadi masa depan seiring bergesernya penggunaan energi di berbagai negara. Energi tradisional seperti minyak bumi dan batu bara mulai ditinggalkan. Proses transformasi ini diprediksi akan berlangsung dalam kurun waktu lima hingga 10 tahun ke depan.
 
Puncak penggunaan minyak bumi dan batu bara diprediksi akan terjadi pada 2030. Setelah itu penggunaan minyak bumi dan batu bara akan mulai menurun dan beralih sepenuhnya terhadapa energi terbarukan (renewable energy).
 
"Puncaknya, 2050 sudah berubah," ujar Penasihat Komisi Global untuk Geopolitik Transformasi Energi International Renewable Energy Agency (IRENA) Mari Elka Pangestu, saat menghadiri Indonesia Milenial Summit, di The Tribrata, Jalan Darmawangsa, Jakarta, Jumat, 17 januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peralihan menggunakan energi terbarukan dinilai bukan karena target dari setiap negara untuk beralih. Transformasi ini disebabkan faktor ekonomi, sosial, dan politik.
 
Selain itu, beberapa perusahaan dan lembaga sudah mulai berkomitmen tidak akan memberikan bantuan dana terhadap proyek-proyek yang masih menggunakan minyak bumi dan batu bara. Misalnya, Standar Charter Bank yang tidak ingin memberikan pinjaman terhadap powerplan yang masih menggunakan batu bara.
 
"Sekarang perusahaan (yang ingin diberi pinjaman) harus melaporkan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka keberlanjutan. Misalnya Ikea sudah mengurangi minyak bumi dan batu bara," tutur Mari.
 
Faktor lainnya yang mendorong terjadinya transformasi energi ialah biaya untuk energi terbarukan sudah menurun. "Mungkin ini jadi perdebatan. Sebab ada merasa perlu waktu, biayanya belum masuk, dan teknologi belum mapan. Tapi average price untuk tenaga matahari dan angin itu sudah sekitar 45 persen," katanya.
 
Kemudian tekanan dari masyarakat juga memicu suatu negara untuk melakukan perubahan energi. Dia mencontohkan masyarakat di Beijing yang melakukan protes karena kadar polusi yang parah di kota tersebut.
 
"Tekanan tersebut yang membuat Tiongkok masuk dalam Perjanjian Iklim Paris," kata Direktur Pelaksana, Kebijakan, dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia itu.
 
Dalam mewujudkan transformasi energi menjadi energi terbarukan, dibutuhkan inovasi, teknologi tepat guna, dan investasi. Pemerintah Indonesia didorong untuk membuat perencaan untuk hal itu.
 
"Untuk beralih harus ada perencanaan untuk 10 tahun ke depan, sehingga kebijakan pemerintah, investor , dan APBN terarah ke situ," ujarnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif