Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto yang notabene pernah menjadi direktur utama Semen Indonesia. Dwi mengatakan hal itu karena program tersebut menggandeng perusahaan BUMN migas ini.
Dwi memperkirakan, dengan konversi solar ke gas ini Semen Indonesia akan menghemat sekitar Rp4 triliun. Apabila program ini dimaksimalkan, bahkan bisa mencatat efisiensi sekitar Rp1 triliun.
"Yang sudah nyata solar ke gas untuk transportasi. Untuk volume gas kurang tahu. Misal biaya angkut 15-20 persen dari total biaya. Kalau total biaya Rp20 triliun, berarti kira-kira Rp3 triliun. Kalau efisiensi, bisa sekitar Rp1 triliun dapatnya Semen Indonesia," jelas Dwi, di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/4/2016).
Tak hanya kerja sama di bidang konversi solar ke gas saja, Dwi melanjutkan jika kedua perusahaan BUMN ini telah banyak melakukan kerja sama konkrit. Salah satunya rencananya adalah pengembangan pemanfaatan geotermal di Aceh.
Dwi mengatakan, dalam pengembangan dan pemanfaatan di Aceh, mereka bekerja sama mengonversi minyak ke gas. Selama ini diketahuinya energi utama dalam industri semen adalah menggunakan batu bara. Hal ini yang harus dikurangi.
"Banyak (kerja sama). Seperti konversi minyak ke gas. Kemudian pengembangan dan pemanfaatan geotermal di aceh. Karena saat ini energi utama industri semen itu batu bara," papar Dwi.
Menurutnya, hal itu sejalan dengan arahan pemerintah untuk mengurangi penggunaan energi fosil. Selain itu juga dia mengatakan, dengan kerja sama ini akan terlihat mana energi yang menghasilkan efisiensi maksimal bagi perusahaan dan lingkungan.
"Untuk melihat apakah energi apa yang terefisien seperti sekarang, atau melihat aspek lingkungan," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News