Ilustrasi. FOTO: AFP/JUAN BARRETO
Ilustrasi. FOTO: AFP/JUAN BARRETO

Konflik AS-Iran, Legislator Minta Pemerintah Antisipasi Harga Minyak

Ekonomi minyak mentah ekonomi indonesia
Antara • 10 Januari 2020 11:01
Jakarta: Pemerintah diminta mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang semakin memanas beberapa waktu terakhir ini. Tentu diharapkan agar ketegangan antara kedua negara bisa segera terselesaikan demi kepentingan bersama.
 
"Pemerintah sudah sejak awal harus siap dan mencari langkah-langkah antisipasi. Konflik AS-Iran akan mendongkrak harga minyak dan memaksa defisit neraca migas naik. Padahal, defisit migas sudah mulai surut pada 2019," kata Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 10 Januari 2020.
 
Menurutnya konflik AS dan Iran memberikan tekanan yang berarti bagi ekonomi dunia, dan satu hal yang paling terasa adalah kenaikan harga minyak. Sedangkan di Indonesia, ia mengingatkan, setidaknya pada jangka pendek pengaruh konflik AS-Iran akan terlihat dari pergerakan rupiah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ecky, pada periode Januari-November 2018, defisit migas mencapai USD12,3 miliar dan pada Januari-November 2019 turun menjadi USD8,3 miliar. Jika nantinya harga minyak jauh di atas asumsi APBN, lanjutnya, mau tidak mau pemerintah akan menaikkan harga BBM subsidi yang dapat memberatkan rakyat.
 
Di tempat terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan konflik Amerika Serikat dan Iran berpotensi semakin memperparah perekonomian global yang sebelumnya telah tertekan akibat masalah lain.
 
Ia menuturkan berbagai konflik lain seperti perang dagang AS dan Tiongkok, Brexit, serta isu Bolivia telah membuat perekonomian dunia termasuk Indonesia menjadi berat sepanjang beberapa tahun belakangan.
 
"Konflik itu memperparah ekonomi global karena pertumbuhannya sampai sekarang belum stabil. AS-Iran menjadi salah satu dari beberapa variabel yang mengganggu ekonomi global," katanya.
 
Di sisi lain, Bahlil menilai Indonesia berpotensi untuk mendapat manfaat dari konflik antara kedua negara tersebut melalui sektor investasi. Namun, ia belum bisa memastikan besaran investasi yang masuk ke Indonesia akibat adanya konflik tersebut dan masih mengkaji secara keseluruhan.
 
Sementara itu, pemerintah menyatakan sudah memiliki solusi untuk mengatasi lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran tersebut. "Jika memang nanti terjadi harga minyak yang tinggi, kita sudah bisa punya pengalaman dan solusinya, langkah langkah apa yang bisa kita lakukan," kata Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif