Petugas PGN melakukan sosialisasi pengaturan jargas pada Ibu Ani. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
Petugas PGN melakukan sosialisasi pengaturan jargas pada Ibu Ani. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

Hijrah ke Gas Bumi, Dapur Irit Tanpa Sulit

Ekonomi perusahaan gas negara (pgn) jaringan gas bumi
Suci Sedya Utami • 20 Oktober 2019 19:49
Pasuruan: Masyarakat Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) perlahan mulai beralih menggunakan gas bumi melalui jaringan gas (jargas) yang dibangun oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN.
 
Salah satunya Ani Kustiyani (40), warga Karanganyar, Panggungrejo, Pasuruan yanghijrah dengan memanfaatkan jargas mulai Maret 2018. Ani sebelumnya menggunakan kayu bakar untuk keperluan dapur sehari-hari.
 
Ibu tiga anak ini merasakan perbedaan signifikan ketika menggunakan jargas. Pengeluaran dapur dalam sebulan jauh lebih hemat ketimbang saat menggunakan kayu bakar. Kelebihan uangnya iagunakan untuk segala macam kebutuhan dapur lainnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak menggunakan jargas, Ani juga tak pernah takutkehabisan bahan bakar saat memasak lantaranpasokan gas bumi terus mengalir dan tersedia setiap saat. Beda halnya ketika ia menggunakan kayu bakar, Ani harus mencari ke sana kemari untuk bisa mendapatkan kayu bakar yang kini mulai jarang didapati.
 
"Kalau pakai jargas PGN itu kan lebih irit, lebih hemat. Kayu bakar susah carinya. Biasanya dikasih orang atau ada yang jual," kata Ani saat berbincang dengan Medcom.iddi kediamannya, Kamis,17 Oktober 2019 lalu.
 
Ketika menggunakan kayu bakar, 'duit dapurnya' kerap terkuras. Maklum, harga kayu bakar Rp20 ribu per ikat. Apalagi penggunaan kayu bakar cepat habis, sehingga ia harus merogoh kocek lebih dalam lantaran tak cukup satu ikat dalam sebulan.
 
Sementara, ketika Ani menggunakan jargas, iahanya membayar tagihan Rp35 ribu sebulan. Paling banter tagihannya Rp70 ribu, itu pun saat Lebaran. Bayar tagihannya juga gampang, lewat sistem onlineatau di minimarket.
 
"Waktu Lebaran ada keluarga ke sini makan-makan, ada hajatan juga. Besar tagihannya tergantung sama penggunaan kita," beber dia.
 
Alasan lain, penggunaan jargas jauh lebih bersih.Peralatan memasak tak mudah kotor dan bercorengusai digunakan sehingga tidak perlu usaha ekstra ketika membersihkannya. Belum lagi dampak ke lingkungan juga menjadi lebih bersih ketimbang saat menggunakan kayu bakar yang efek asap dan sisa abunya bisa tertiup oleh angin.
 
"Kalau cuci peralatan masak jadi enggak cemong," tutur dia.
 
Senada, Bambang Kushadi (55) juga beralih menggunakan jargas selama dua bulan terakhir. Bambang mulai menggunakan jargas di warung makan lesehan miliknya. Padahal sebelum menggunakan jargas, ia sudah belasan tahun menggunakan bahan bakar gas tabung untuk memasak makanan.
 
Ia pindah hati ketikaada ada tawaran penggunaan jargas oleh petugas survei. Tak lantas terpikat, ia kemudian mengorek infromasi lebih dalam terkait untung-rugi penggunaan jargas. Setelah mendapat penjelasan detail, ia akhirnya 'hijrah' dan beralih.
 
Menurutnya, selain aman, penggunaan jargas juga lebih lebih hemat. Dalam operasional warung makan sehari-hari, pemakaian gas tabung ukuran lima kilogram mencapai dua hingga tiga tabung per hari dengan satu tabungnya seharga Rp110 ribu.
 
Artinya, dalam sehari Bambang mesti merogoh kantong Rp220 ribu-Rp330 ribu. Apabila dikalkulasi dalam satu bulan, biaya yang dikeluarkan untuk membeli gas tabung mencapai Rp6,6 juta hingga Rp9,9 juta.
 
Sementara dalam dua bulan terakhir menggunakan jargas, biaya yang bisa dihemat mencapai 50 persen. Tagihan pertama pemakaian jargas hanya Rp3,6 juta.
 
"Selisih separuh, dari Rp6 jutaan ke Rp3 jutaan. Ndak (tidak) karuan murahnya. Saran saya tarifnya tolong jangan dinaikkan," tutur Bambang.
 

Hijrah ke Gas Bumi, Dapur Irit Tanpa Sulit
(Petugas jargas PGN menerangkan penggunaan aliran gas untuk jargas kepada Bambang. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami)
 
Bambang bilang selisih uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli gas tabung kini bisa disisihkan untuk hari tua kelak. Di samping itu juga bisa digunakan untuk menambah modal warung.
 
Saat ini warung lesehan tersebut mempekerjakan tujuh karyawan untuk memasak dan mencuci piring. Satu karyawan diberi upah harian sebesar Rp50 ribu. Artinya dalam seminggu Bambang mengeluarkan dana Rp350 ribu untuk membayar satu pegawai dan sebulan sekitar Rp10,5 juta untuk membayar upah ketujuh pegawainya.
 
Belum lagi untuk modal sehari-hari dalam membeli kebutuhan warung seperti sayuran, ayam, tempe, beras dan lainnya. Dalam sehari, kata Bambang, bisa mencapai Rp3,5 juta. Jika dikalikan sebulan, modal yang dikeluarkan kira-kira Rp105 juta.
 
Bambang menambahkan sejak menggunakan jargas, dirinya tidak perlu khawatir dan kesulitan mencari pasokan jika gas habis. Beda halnya saat menggunakan gas tabung, Bambang terpaksa keliling Pasuruan ketika gas tabung sulit didapat.
 
"Jadi dengan menggunakan jargas ini nemen enak'e (banyak enaknya). Ya aman, ya irit, dan tidak perlu bingung cari gas ke toko kalau habis dan pemasok tutup," jelas dia.
 
Sekretaris Lurah Karanganyar Yeti Hayuni menyebutkan ada 2.000kepala keluarga (KK) yang telah menggunakan jargas di wilayah KecamatanPanggungrejo. Pemasangan jargas tidak dilakukan secara door to door, melainkan melalui penugasan dan pendataan dari pemerintah.
 
Sebelumnya, PGN telah merampungkan pembangunan sambungan jargas rumah tangga di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa Timur dengan total 8.150 sambungan. Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Redy Ferryanto menyebutkan hingga akhir tahun lalu, total sambungan gas rumah tangga yang dibangun menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Jawa Timur sebanyak 65.961 sambungan.
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif