Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Inalum Kaji Pengembangan Logam Tanah Jarang

Ekonomi minerba inalum
Suci Sedya Utami • 09 Juli 2019 11:02
Jakarta: PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum berniat untuk mengembangkan logam tanah jarang atau yang disebut rare earth di Indonesia. Saat ini Inalum tengah mengkaji potensi cadangan logam tanah jarang di Tanah Air.
 
Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan pihaknya telah melakukan identifikasi logam tanah jarang di Indonesia. Logam tanah jarang merupakan komoditas mineral berkualitas tinggi yang menjadi bahan baku dalam pembuatan peralatan iliter, mesin jet, satelit, sistem pengarah misil dan laser.
 
Dia mengtakan kajian yang dilakukan memerlukan waktu selama 18 bulan hingga bisa mengetahui berapa besar potensi logam tanah jarang di Indonesia. Logam tanah jarang berasal dari komoditas bauksit dan timah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita mulai dari sekarang reasearch-nya sudah banyak. Sebenarnya kita ingin plek bangun pabrik, tapi belum sedalam baterai. Kita masih research, kita sudah identifikasi, sekarang kita cari proses ekstraksi," kata Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019.
 
Adapun negara yang telah memproduki logam tanah jarang yakni Tiongkok. Tiongkok saat ini merupakan negara produksi logam tanah jarang terbesar di dunia. "Tiongkok memproduksi 60-70 rare earth di dunia," tutur Budi.
 
Oleh karenanya, lanjut Budi, Inalum membuka peluang kerja sama dengan Tiongkok untuk mengembangkan logam tanah jarang. "Karena mereka yang paling maju untuk ekstraksinya, tapi pasti rare earth Indonesia akan disukai," kata dia.
 
Sebelumnya Dewan Penasehat Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) Arif Zardi Dahlius menyatakan Indonesia memiliki potensi rare earth yang tinggi, namun pengembangannya sangat minim. Jika dioptimalkan, bukan tak mungkin Indonesia bisa menggantikan Tiongkok sebagai negara pengekspor logam tanah jarang ke Amerika Serikat (AS).
 
Berdasarkan Global Times, AS menghadapi risiko pembatasan ekspor logam tanah tinggi oleh Tiongkok sebagai aksi balasan perang dagang yang dilancarkan Presiden Donald Trump.
 
Kondisi geografis Indonesia yang terletak di jalur cincin api membuat potensi keberadaan mineral, termasuk logam tanah jarang sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan PT Timah Tbk baru mulai mengembangkan logam tanah jarang.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif