Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Kenaikan Permintaan Energi Sebabkan Impor Migas Bengkak

Ekonomi impor minyak
Suci Sedya Utami • 15 Mei 2019 16:08
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani merespon kinerja impor minyak dan gas (migas) yang membengkak sepanjang April 2019 sehingga membuat defisit neraca dagang di sektor tersebut tertekan.
 
Ani, sapaan akrab Sri Mulyani, mengatakan adanya peningkatan impor dari sisi volume. Ia menjelaskan sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, Indonesia tidak bisa membatasi permintaan terhadap kebutuhan energi. Sebagai negara yang mencoba mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, permintaan terhadap energi pasti akan meningkat.
 
"Kita tidak bisa meminta supaya volume turun karena dengan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, tidak akan mungkin permintaan terhadap energi turun. Pasti akan meningkat," kata Ani ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara di sisi lain, produksi migas saat ini cukup stagnan. Bahkan, untuk lifting migas saat ini realiasainya masih di bawah target. Dengan kondisi tersebut maka kebutuhan impor RI masih cukup besar.
 
Data Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) menyebutkan lifting migas hingga April masih 89 persen dari target di APBN 2019. Realisasinya baru 1,8 miliar barel setara minyak per hari, sedangkan yang ditargetkan sebesar 2 miliar barel setara minyak per hari.
 
Ani menambahkan sebenarnya pemerintah telah melakukan kebijakan untuk mengurangi kebutuhan impor, salah satunya melakui penerapan biodiesel 20 persen (B20). Kebijakan tersebut telah dijalankan Pertamina. Namun, lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, dirinya pun masih harus melihat lebih jauh dampak dari implementasi tersebut.
 
"Nanti kami akan lihat kemarin dari beberapa impor Pertamina masih cukup besar. Jadi kita lihat apa yang terjadi saya menunggu dari menteri ESDM atau Menko Perekonomian untuk melihat dari sisi itu," jelas Ani.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor migas pada April mencapai USD2,2 miliar meningkat dibanding bulan sebelumnya yang sebesar USD1,5 miliar. Angka tersebut menyebabkan defisit migas tercatat sebesar USD1,5 miliar karena di sisi ekspor hanya bisa mencatatkan nilai USD741,9 juta.
 
Defisit migas tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi tiga bulan sebelumnya Januari hingga Maret yang masing-masing sebesar USD421,9 juta, USD473,8 juta dan USD380,3 juta. Juga lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD1,15 miliar.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif