Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Pasokan Gas Berdaya Saing, Manufaktur Bisa Tumbuh 6-7%

Ekonomi pengelolaan gas bumi gas
Ilham wibowo • 25 September 2019 11:11
Jakarta: Ketersediaan gas bumi memegang peran penting bagi kinerja produksi industri pengolahan baik sebagai bahan baku maupun energi. Harga gas yang kompetitif pun dinilai sebagai penopang daya saing industri nasional.
 
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Johnny Darmawan mengatakan para pelaku usaha menanyakan kembali bagaimana sesungguhnya komitmen kebijaksanaan dan keberpihakan Pemerintah dalam menetapkan harga gas yang sampai saat ini belum ada kepastian. Harga gas bumi di Indonesia masih relatif lebih mahal untuk bisa menghadapi persaingan industri dengan Vietnam dan Malaysia.
 
"Padahal, apabila pasokan gas dalam negeri berdaya saing maka sektor industri manufaktur diharapkan akan tumbuh 6-7 persen," ungkap Jhonny dalam sebuah forum diskusi gas di menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu, 25 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Johnny memaparkan gas sangat berperan dalam pengoperasian sektor industri lantaran biaya gas bumi memberikan kontribusi 20-30 persen terhadap biaya produksi. Penyesuaian harga gas bumi yang cenderung lebih tinggi dari sebelumnya pun dipastikan ikut berpengaruh pada keberlanjutan industri.
 
"Membangun negri ini harus sustainable industri, kalau kita bangun industri kita harus lihat konsisten dan konsekuen," ungkapnya.
 
Harapan dunia usaha saat ini disematkan dalam implemetasi Perpres No.40/2016 tanggal 3 Mei 2016 tentang penetapan harga gas bumi sebesar USD6 per MMBTU. Ia menyayangkan setelah tiga tahun berlalu harga jual gas industri masih tetap tinggi dan belum ada perubahan.
 
Kebijakan kontraproduktif bahkan ditemui melalui surat edaran PGN No.037802.S/PP.01.01/BGP/2019 tertanggal 31 Juli 2019 yang justru akan melakukan penyesuaian dengan menaikan harga jual gas per 1 Oktober 2019. Jhonny menegaskan pihaknya tak sepakat dengan langkah tersebut.
 
"Aturan sudah ada, bagaimana kok enggak bisa dan tahu-tahu keluar masalah PGN menaikkan gas, padahal tujuannya sama membangun negri. Saya sepakat harga gas harus turun untuk persaingan industri," tuturnya.
 
Ia menambahkan, sektor industri pengguna gas bumi merupakan penggerak perekonomian nasional dari devisa perolehan ekspor, pajak, dan penyerapan tenaga kerja langsung lebih dari 8,5 juta orang. Sektor industri tersebut juga mempunyai keterkaitan yang sangat luas dengan berbagai sektor mulai dari pemasok bahan bakar hingga pemasaran produk hilir (consumer goods).
 
Sedikitnya, ada dua kebijakan turunan yang mendukung Perpres Nomor 40/2016. Pertama, Permen ESDM Nomor 58/2017 tentang Harga Jual Gas Bumi Melalui Pipa Pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. Kedua, PP Nomor 48/2019 tentang Besaran dan Penggunaan Iuran Badan Usaha Dalam Kegiatan Usaha Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
 
"Dengan adanya dua dukungan kebijakan tersebut, harusnya harga gas Industri sudah turun dan berdaya saing sebagaimana amanat Perpres No.40/2016. Pelaksanaan kebijakan tersebut sangat ditunggu oleh para pelaku usaha, karena keberpihakan pemerintah akan menjadi dasar yang kuat dalam pembangunan industri di Indonesia," kata Johnny.
 
Sebelumnya, Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) tengah menyiapkan skema penyesuaian harga lantaran kendala pasokan gas bumi yang berkurang. Produk gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) rencananya bakal ditawarkan sebagai pengganti kebutuhan pelanggan terutama industri.
 
Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan pihaknya masih melakukan survei dan diskusi kepada pelanggan terkait penyesuaian harga tersebut. Penyesuaian harga gas pelanggan industri itu pun telah direncanakan bakal dimulai pada 1 Oktober 2019.
 
"Mengenai harga, saat ini kami belum melakukan adjustment harga tersebut, kami sedang dalam proses untuk melakukan survei untuk melihat kemungkinan itu," kata Gigih ditemui dalam Public Expose di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.
 
Ia mengatakan alasan kenaikan harga dilakukan karena pasokan gas bumi PGN berkurang hingga 30-40 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Jaringan gas pelanggan di wilayah Jawa Timur misalnya, bahkan telah mengalami gangguan lantaran kondisi ini.
 
"Jadi kami sekarang diskusi dengan pelanggan dalam rangka meningkatkan ketahanan pasokan dan peningkatan pelayanan, kami akan tawarkan kepada pelanggan, terkait supply seperti apa dan sebagainya," kata Gigih.
 
Penggunaan LNG tak bisa terelakkan untuk bisa terus mendukung proses produksi yang lebih optimal bagi pelanggan. Hanya saja, PGN perlu memberlakukan skema komersial dan mekanisme kontrak yang fleksibel terutama dalam penentuan harga LNG.
 
"Kalau memang pelanggan itu ingin pasokannya lebih ditingkatkan tentunya kami tawarkan LNG, terkait harganya, tergantung harga beli LNG kami dari pasar atau Pertamina dan ini masih dalam proses pembahasan," paparnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif