Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Pemerintah Valuasi Saham Vale dengan Metode Harga Berlaku Wajar

Ekonomi vale indonesia
Suci Sedya Utami • 12 Juli 2019 11:51
Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menghitung valuasi saham PT Vale Indonesia Tbk yang berencana melakukan divestasi penghitungan valuasi berdasarkan metode discounted cash flow (arus kas terdiskon).
 
Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan perhitungan tersebut diharapkan raampung sebelum jatuh tempo kewajiban divestasi 20 persen pada Oktober 2019. Hasil dari valuasi tersebut nantinya bakal disampaikan oleh Kementerian ESDM pada Kementerian Keuangan sebagai bahan pertimbangan untuk menyikapi kewajiban divestasi perusahaan asal Brasil itu.
 
Dirinya menjelaskan metode perhitungan menggunakan discounted cash flow merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 43 Tahun 2018 tentang Tata Cara Divestasi Saham dan Mekanisme Penetapan Harga Saham Divestasi Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Peraturan ini merupakan perubahan atas Peraturan Menteri ESDM No. 9 Tahun 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam beleid teranyar itu menyatakan harga saham divestasi yang ditawarkan kepada peserta Indonesia dihitung berdasarkan harga pasar yang wajar (fair market value). Namun ditegaskan harga pasar yang wajar itu tidak memperhitungkan cadangan mineral atau batu bara kecuali yang dapat ditambang selama masa berlaku operasi tambang.
 
"Menggunakan metode discounted cash flow sudah diatur dalam pasal 14 Permen 43/2018," kata Yunus, di Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019.
 
Sebenarnya perhitungan harga pasar yang wajar bisa dilakukan menggunakan dua metode yakni discounted cash flow atas manfaat ekonomis selama periode dari waktu pelaksanaan divestasi hingga akhir masa berlakunya operasi tambang. Kemudian metode replacement cost dengan perbandingan data pasar (market databenchmarking). Namun kata Yunus perhitungan saham saat ini tak lagi menggunakan metode replacemenf cost.
 
"Sedangkan metode replacement cost tidak sesuai dengan karaterisktik investasi sektor tambang yang high risk dan high capital," tutur dia.
 
Vale memiliki kewajiban divestasi saham sebesar 40 persen. Besaran divestasi itu berdasarkan kesepakatan dalam amandemem Kontrak Karya (KK) di 2014 silam. Kesepakatan terkait divestasi merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2014 sebagai perubahan ketiga PP No. 23 Tahun 2010.
 
Dalam beleid itu disebutkan divestasi harus dilakukan paling lambat pada 14 Oktober 2019 atau 5 tahun setelah terbitnya PP 77. Adapun besaran divestasi dalam PP 77 terbagi dalam tiga kategori yang merujuk pada kegiatan pertambangan. Vale termasuk dalam kategori kedua yakni kegiatan pertambangan dan pengolahan pemurnian.
 
Oleh sebab itu kewajiban divestasinya hanya 40 persen. Dalam amandemen KK pun disepakati Vale wajib melepas 20 persen saham lagi lantaran sudah 20 persen saham Vale yang telah tercatat di bursa efek dan telah diakui sebagai saham divestasi.
 
Dalam KK yang dipegang Vale memuat dua mekanisme perhitungan saham yakni harga pasar yang wajar dan replacement cost. Skema fair market value bila 20 persen saham dibeli oleh badan usaha milik negara (BUMN). Sementara perhitungan dengan skema replacement cost digunakan bila saham divestasi dibeli oleh pemerintah.
 
Adapun PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum yang merupakan anak usaha BUMN mengatakan telah melakukan hitung-hitungan awal terkait valuasi saham Vale. Inalum menyatakan siap apabila ditugaskan untuk mengambilalih saham Vale.
 
"Kalau ditugaskan kita mau, kita siap," kata Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin.
 
Budi mengatakan berdasarkan hitung-hitungan tersebut nilainya di bawah USD1,5 miliar. Budi mengatakan valuasi yang dilakukan berdasarkan harga saham yang berlaku di market.
 
"Kita sudah hitung angkanya enggak segitu. Tapi belum bisa share. Valuasinya kan sebenarnya gampang, kan di market ada mekanisme yang cukup fair untuk hitung valuasi perusahaan," ujar Budi.
 
Terkait dengan pendanaan, dirinya bilang akan berasal dari ekuitas dan pinjaman. Saat ini ekuitas Inalum mencapai Rp100 triliun dan dana tunai (cash) sebesar USD20 triliun.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif