Wawancara Khusus

Menilik Prospek B20 untuk Ekonomi Indonesia

Annisa ayu artanti, Arif Wicaksono 28 September 2018 20:38 WIB
Wawancara Khusus Ekonomi
Menilik Prospek B20 untuk Ekonomi Indonesia
Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
BANYAK kritik bermunculan datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terhadap penggunaan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dalam penyerapan program biodiesel dengan kadar 20 persen (B20). Penggunaan FAME, sebagai bahan kelapa sawit, sebagai bahan campuran dalam solar, akan menyuburkan penebangan hutan dari pelaku industri kelapa sawit. Kritik-kritik tersebut pun pada akhirnya malah menimbulkan perspektif buruk terhadap pelaku industri.

Lalu, bagaimana sebenarnya prospek penyerapan B20 ini bagi perekonomian Indonesia? Dalam wawancara dengan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) ditemukan bahwa penggunaan B20 bisa berdampak kepada kesehatan lingkungan serta kesehatan keuangan negara.

Namun demikian kebijakan dengan energi terbarukan ini diharapkan bisa mengurangi polusi udara serta mengurangi defisit yang muncul dari impor migas. Kebijakan ini juga baik dalam jangka panjang. Berikut hasil wawancara reporter Medcom.id Annisa Ayu Artanti dengan Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor beberapa waktu lalu.

Bagaimana menurut Bapak dengan kewajiban bagi non-PSO dalam menyerap B20? Kendala apa yang akan dihadapi?

Sekarang melihatnya begini, ada kewajiban bagi Indonesia untuk merealisasikan perjanjian di COP 21 Paris, di mana kita harus menurunkan emisi.

Salah satu caranya degan menerapkan energi terbarukan, salah satunya dengan menggunakan FAME yang disebut biodiesel sekarang ini, tadinya lima persen, 10 persen, sekarang 20 persen, bahkan rencananya nanti di 2021 atau bahkan kita ingin dipercepat di tahun depan menjadi B30. Ini kita ingin mencapai target apa yang kita janjikan di COP21 Paris.

Kedua, dengan energi yang baik atau energi terbarukan, dengan sendirinya tingkat polusi yang ada di Indonesia akan berkurang. Kalau polusi berkurang, tingkat kesehatan akan semakin baik. Kalau tingkat kesehatan masyarakat semakin baik, dengan sendirinya dana yang terhimpun di BPJS untuk membiayai sektor kesehatan akan semakin berkurang.

Ketiga adalah berkurangnya impor solar, dengan berkurangnya impor solar tentunya cadangan devisa yang digunakan untuk mengimpor solar atau mengimpor BBM semakin kecil.

Keempat, produk kita. Kita kan menjadi satu negara penghasil CPO terbesar di dunia dengan jumlah sekarang ini produksinya sekitar 40 juta ton. Dengan besarnya penggunaan di dalam negeri maka produk CPO kita bisa terserap dan sisanya untuk ekspor. Jadi dengan sendirinya penghasilan petani yang saat ini lebih kurang sekitar 12 juta orang masuk di sektor sawit ini pendapatan dan kesejahteraannya akan meningkat. Kalau saya melihatnya ada empat hal dari pelaksanaan B20 atau B30 menjadi lebih baik.

Apakah ada masalah bagi pelaku industri untuk menyerap B20?

Saya kira tidak ada masalah dengan itu, bahkan kalau kita mau secara jujur mengatakan, kalau dia beli solar sekarang ini kan harganya mahal, dengan dicampur 20 persen harganya akan lebih murah karena harga FAME-nya lebih murah dari solar. Kalau dicampur harga solarnya akan lebih turun, karena ada yang murah dicampur dengan yang mahal, jadi akan ada harga yang murah. Seyogyanya, itu menguntungkan sektor industri jika menggunakan B20.

Sejauh ini industri apa saja yang sudah menggunakan B20?

Semuanya, sekarang misalnya alat berat tambang batu bara. Saya cari B0 sekarang sudah tidak ada. Karena tidak ada yang menjual, kalau ditemukan ada yang menjual B0 dia kena denda nanti. Jadi semua harus pakai B20.

Jadi apakah industri sudah siap menyerap B20?

Sudah, semua sudah siap. Karena begini, Pak Menteri bilang ada yang mengeluh dari Organda. Dia bilang 'begini-begini, lho', mulai 2016 tidak ada lagi pom bensin yang menjual B20. Jadi tidak ada lagi sekarang muncul cerita 'kok kami tidak tahu. Lho selama ini sudah pakai, kok tidak tahu?' Di semua pom bensin di seluruh Indonesia, SPBU itu dijual biodesel.

Biodiesel itu adalah B20. Orang tidak tahu biodiesel itu B20. Biodesel itu sama dengan B20. Jadi waktu saya ketemu dengan Organda di Kadin, 'loh jadi saya sudah makan sianida sejak 2016, ya sudah'. Kemudian alasan ganti saringan itu enggak ada, karena mereka sudah pakai dari 2016. Soal mereka tidak paham itu apa, ya boleh juga disalahkan kita kurang sosialisasi. Tapi selama ini truk-truk di Tanjung Priok sepanjang itu dia pakai solar dia sudah pakai B20.

Produksi dalam negeri sendiri B20 sudah berapa?

Kapasitas FAME yang dicampurkan solar itu 12 juta kiloliter (kl). Kalau yang sekarang ini baru terserap, baru dipakai 4,5 juta kl. Jadi masih sekitar 35 persen dari kapasitas yang ada. Sebagian lainnya kan ekspor. Mungkin semua pabrik ini baru 50 persen bisa berproduksi.

Jadi ketika kita bisa kelola itu semua, kapan kita bisa ekspor B20?

Sekarang kapasitas 12 juta kl. Kalau terjadi B30, jumlah kebutuhan solar dalam negeri itu naik menjadi 30 juta jadi sembilan juta kl FAME yang diperlukan. Kalau kapasitas produksi kita 12 juta kl itu masih ada tiga juta kl yang kita ekspor.

Itu yang diekspor FAME saja ya?

FAME. Iya FAME-nya yang kita ekspor. Kan selama ini yang kita ekspor FAME-nya bukan sama solarnya, mereka punya solar sendiri. Kita ekspor FAME-nya. Sekarang kita lagi ekspor. Ekspor ke Tiongkok dan Eropa.

Paling besar ekspor FAME ke mana?

Saya kira posisi sekarang mungkin ke Tiongkok mungkin ya, saya enggak tahu persis. Tapi ekspor ke Tiongkok ada, ke Eropa ada. Kalau Eropa yang sekarang ini lebih besar ke Spanyol.

Ada rencana perluasan ekspor selain ke Eropa?

Oh ada, misalnya ke Tiongkok, India, dan Pakistan. Karena mereka mau menerapkan supaya BBM-nya dicampur.

Bisa enggak kalau nantinya kita ekspor yang sudah dicampur B20?

Enggak. Karena kita sendiri masih mengimpor solar. Solar ini ada yang diproduksi Pertamina dan ada yang diimpor. Nah, sekarang total solar yang kita gunakan di dalam negeri itu 30 juta kl, 6,7 juta kl itu impor. Produksi Pertamina itu sekitar 23 juta kl. Jadi produksi dalam negeri kita saja kurang, maka kita impor. Jadi enggak mugkin kita ekspor solar.

Apakah kebijakan B20 akan memengaruhi kenaikan harga CPO sampai akhir tahun?

Pasti, kita harapkan harga CPO itu naik. Mungkin sekarang posisinya di 650-670, saya enggak tahu, tapi pasti akan naik. Bahkan kita prediski kenaikan itu akan terjadi di November.

Kenapa di November Pak?

Di November itu kebutuhan akan CPO di luar negeri akan meningkat. Itu soal demand dan supply.

Untuk produksi sendiri, apakah ke depannya akan menaikkan produksi? Mengingat ada kebijakan B30 dan lain-lain?

Ada saja. Karena ada keunggulannya membangun industri seperti ini. Kalau harga CPO lagi turun, dia jadikan FAME dulu, dia simpan. Nanti kalau saat harga FAME naik, kalau CPO kan enggak bisa disimpan lama-lama. Karena kalau CPO kualitasnya, kadar asamnya jadi jelek. Kalau FAME dia bisa simpan setahun. Jadi ada kecenderungan sekarang mereka mau bangun industri FAME.

Sudah ada pembicaraan, berapa banyak yang akan dibangun?

Oh enggak banyak. Tapi ada satu dua yang merencanakan mau bangun.

Sejauh mana insentif program perluasan B20 dari dana pungutan (CPO Fund). Apakah sudah cukup untuk  pengembangan industri kelapa sawit?

Insentif itu tidak dari negara. Yang sekarang ini yang dari BPDP tidak dari negara. Semua perusahaan eksportir tadinya bersepakat pada harga CPO jatuh kita kumpulkan duit, setiap kita ekspor 30-50 jadi CPO Fund. CPO Fund ini siapa yang ngumpulin, Aprobi kah? Kalau saya yang mengumpulkan jangan-jangan percaya. Maka dibentuklah BPDP.

Di BPDP lah dikumpulkan duit ini. Kalau ada selisih harga antara FAME dengan solar. Kalau FAME lebih tinggi dari solarnya, maka uang ini lah yang mengganti selisih. Tapi kalau solarnya lebih tinggi dari FAME, tidak ada kewajiban BPDP membayar ke FAME. Jadi kami ini hanya dapat uang produksi, uang produksi dan harga FAME-nya. Jadi dari CPO Fund itu selisihnya tadi. Nah Pertamina bayar FAME nya sesuai dengan HIP FAME.

Meskipun ada kebijakan B20, yang artinya pengusaha harus menggenjot lagi produksinya. Apakah ada insentif lain yang diminta pengusaha?

Enggak ada.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id