Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Dirikan Anak Usaha Baru, Pertamina Jamin Beda dengan Petral

Ekonomi pertamina petral
Suci Sedya Utami • 10 Oktober 2019 11:21
Jakarta: PT Pertamina (Persero) mendirikan anak usaha baru bernama Pertamina International Marketing and Distribution (PIMD) Pte Ltd. Kendati bergerak dalam sayap perdagangan (trading arm), namun Pertamina menyatakan PIMD berbeda dengan Petral.
 
VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan meskipun sama-sama trading arm, namun pembentukan PIMD tidak untuk menggantikan Petral yang telah dibubarkan.
 
Fajriyah menjelaskan Petral merupakan trading arm Pertamina dalam impor minyak mentah untuk kebutuhan domestik. Sedangkan PIMD merupakan trading arm untuk menjual produk Pertamina maupun produk pihak ketiga di pasar internasional.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi jelas PIMD jangan disamakan dengan Petral, karena PIMD fokus untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui penjualan di luar negeri. Jadi bukan untuk memenuhi kebutuhan domestik," kata Fajriyah dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.
 
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan minyak mentah maupun produk BBM domestik tetap dilakukan sesuai amanat pemerintah yaitu oleh fungsi di internal Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC).
 
"Saat ini, PIMD juga berperan untuk menangkap peluang bisnis pasar bunker Asia Tenggara terutama di Singapura, dan hal ini adalah bisnis yang sifatnya operasional. Ke depan. Perusahaan ini juga menggarap peluang penjualan produk lainnya langsung ke end customer di pasar internasional dengan membangun bisnis ritel dalam rangka memperkenalkan brand Pertamina secara global," ujar Fajriah.
 
Terkait dengan bisnis bunkering, Fajriyah menjelaskan shipping company di Singapura lebih memilih membeli bunker dari perusahaan Singapura, karena terkait dengan tax refund. Sehingga untuk menjangkau pasar bunker di sana, Pertamina harus membentuk perusahaan di Singapura.
 
Target yang dipatok untuk penjualan bunker PIMD di tahap awal sekitar 60 ribu metrik ton (MT) per bulan. Target tersebut akan meningkat terus hingga 200 ribu MT atau sekitar lima persen dari market share bunker di Singapura yang memang sangat besar. Selain itu, PIMD juga diproyeksikan untuk dapat memasuki pasar penjualan bahan bakar ritel dan elpiji di wilayah regional yakni Filipina, Thailand, dan Myanmar.
 
"Kalau perusahaan migas lain bisa menggarap pasar kita, kenapa Pertamina tidak?" ujar dia.
 
Perluasan jangkauan bisnis Pertamina melalui PIMD di kawasan Asia tersebut akan semakin menguatkan posisi Pertamina di kancah kompetisi regional. Hal ini juga yang akan menjadi pendorong Pertamina untuk mencapai target berada di peringkat 100 teratas daftar Fortune Global 500, yang pada tahun ini Pertamina berada di posisi 175.
 
Secara terpisah Direktur Perencanaan Investasi Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan menambah perbedaan lainnya yakni Pertal dulu melakukan pengadaan (procurement) hanya untuk kebutuhan Pertamina.
 
Sedangkan PMID bisa melakukan pengadaan untuk pihak ketiga dengan syarat harus mengikuti tender. Namun tender tersebut harus melalui ISC.
 
"Jadi dia tidak dikasih otoritasi untuk melakukan procurement, beda sama Petral. Masih ISC untuk pengadaan minyak mentah maupun produk," tutur Heru.
 
Selain itu Heru menjelaskan alasan mengapa PIMD dibentuk, dia bilang Pertamina harus memiliki anak usaha dalam jasa trading arm,sebab Pertamina sudah mulai ekspor BBM misalnya avtur dan solar. Selain juga untuk bisnis dengan pihak ketiga.
 
"Avtur kita ekspor kadang-kadang solar juga kita ekspor. Terus dia bisa third party, dia bisa ambil ke tempat lain, jual ke tempat lain. Jadi enggak harus ke Pertamina," jelas Heru.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif