Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)
Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)

2020, Subsidi Solar Dipatok Maksimum Rp1.500

Ekonomi kementerian esdm solar subsidi Subsidi Solar
Suci Sedya Utami • 21 Juni 2019 10:19
Jakarta: Rapat kerja antara Komisi VII Dewan Perwakilan Republik Indonesia (DPR RI) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyepakati besaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sebesar Rp1.500 per liter di 2020. Besaran tersebut lebih rendah dibandingkan dengan usulan Kementerian ESDM sebesar Rp2.000 per liter.
 
Angka kesepakatan tersebut juga sama seperti subsidi di tahun ini. "Subsidi tetap minyak solar (gas oil 48) (batas atas) Rp1.500 per liter," kata Ketua Komisi VII Gus Irawan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Juni 2019.
 
Kesepakatan ini nantinya akan dibawa ke dalam pembahasan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI untuk kemudian dijadikan pertimbangan dalam penyusunan Rancangan Angggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anggota Komisi VII Maman Abdurrahman menjelaskan alasan mengapa pihaknya menurunkan besaran subsidi yang disepakati. Dia mengatakan subsidi lebih baik dialokasikan lebih banyak untuk elpiji tiga kg. Berdasarkan pantauan di banyak wilayah ketika terjun ke daerah pemilihan (dapil), para legislator kerap kali menerima aspirasi masyarakat terkait elpiji tiga kg.
 
Menurutnya banyak masyarakat yang kurang mampu yang mendapatkan tidak mendapatkan elpiji tiga kg. "Melihat subsidi solar tidak terlepas dari upaya untuk melakukan konversi ke gas. Kami usulkan subsidi Solar yang mayoritas enggak tepat sasaran dialihkan lebih banhyak ke elpiji tiga kg," kata Maman.
 
Adapun besaran subsidi elpiji tiga kg yang disepakati mengalami kenaikan. Dari usulan Kementerian ESDM sebesar 6,978 juta kilo liter, kesepakatannya sebesar tujuh juta kilo liter.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan besaran subsidi yang disepakati merupakan batas atas. Artinya subsidi yang diberikan bisa saja lebih rendah dari Rp1.500 per liter.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif