ANTARA FOTO/Rosa Panggabean.
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean.

Gebrakan Arifin Panigoro di Dunia Pertambangan

Arif Wicaksono • 29 November 2015 11:16
medcom.id, jakarta: Pada masa 1980-an Indonesia mengalami berkah kenaikan harga minyak atau oil boom. Kesempatan ini dimanfaatkan Arifin Panigoro dengan mendirikan jasa konsultasi perusahaan migas yakni PT Meta Epsi Pribumi Drilling Company (Medco).
 
Medco pun mulai masuk dalam proyek jasa pengeboran yang dilakukan Pertamina di Sumatra Selatan di 1984. Medco mendapatkan proyek jasa pengeboran itu setelah mendapatkan rekomendasi dari Piet Haryono dan Dirjen Migas Wiharso.
 
Tak puas mengandalkan proyek dari pemerintah, AP membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur seharga USD13 juta.

Kemudian, gebrakan besar dilakukan Medco dengan membeli PT Stanvac Indonesia. Medco berhasil memiliki Stanvac setelah dalam tender yang dilakukan di kantor perusahaan minyak Exxon, New York mengalahkan 30 perusahaan lain.
 
Stanvac sebelumnya dimiliki beberapa perusahaan minyak Amerika, seperti Exxon, Esso, dan Mobil Oil.  Dengan memiliki Stanvac, kini Medco mempunyai daerah konsesi minyak Kampar, Rimau, dan Pasemah (semuanya di Sumatera Selatan). Dana membeli saham PT Stanvac Indonesia didapatkan melalui pinjaman perbankan senilai USD100 juta melalui PDFCI dan Bank Bira.
 
Setelah itu perusahaan melakukan penawaran saham perdana atau IPO di 1994 untuk mendapatkan uang sebesar Rp167 miliar.  Perusahaan pun menganti namanya menjadi  menjadi PT Medco Energi Corporation.
 
Arus reformasi membuat AP yang juga pernah aktif di Partai Golkar ini, bergabung bersama Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP). Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga mengaku ikut mendanai aksi demonstrasi yang  dilakukan mahasiswa di Gedung DPR untuk menjatuhkan Presiden Soeharto.
 
Dia pun mundur dari jajaran direksi Medco pada 1998 dan mulai bergerak dibelakang layar. AP duduk sebagai dewan penasihat Medco bersama dengan Mantan Menteri Pertambangan Prof Subroto dan Menteri Kehakiman ISmael Saleh.
 
Duduk sebagai dewan penasihat, berbagai reformasi organisasi dilakukan dengan melibatkan sejumlah profesional dan mengundang masuknya investor asing. 
 
Investor asing sempat menguasai Medco seiring dengan tumpukan utang yang dialami perseroan pada 2004. Saham Medco sempat dimiliki (Credit Suisse First Boston) dan PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) dengan porsi kepemilikan mayoritas melalui New Links Energy Resources. 
 
Keluarga Panigoro yang memiliki keyakinan terhadap membaiknya kinerja Medco kembali sebagai pemegang saham mayoritas lewat  Encore Ltd dengan dana sebesar USD478 juta untuk mengambil alih saham. Dana ini didapatkan melalui pinjaman perbankan asing yakni UOB dan Merill Lynch.
 
Mundurnya AP dalam  jajaran direksi tak membuat kinerja Medco surut, bahkan perusahaan migas terbesar di indonesia ini semakin berkembang dan menjadi  perusahaan multinasional besar dengan  memiliki konsesi sejumlah ladang minyak dan gas di luar  negeri seperti di Oman, Libya, AS dan Yaman.
 
Kinerja Medco selama lima tahun terakhir dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2014 menunjukkan cadangan minyak dan gas MEDCO selalu meningkat. Dari posisi cadangan minyak 103 juta barel minyak (MMBO) di 2010 dan kemudian mencapai 140 MMBO di 2014. Cadangan gas alami kenaikan dari 881 miliar kaki kubik (BCF) di 2010 ke 878 BCF pada 2014.
 
Kondisi ini berbanding terbalik dengan laba bersihnya yang mengalami penurunan dari USD85,8 juta di 2010 menjadi USD10,1 juta di 2014. Penurunan disebabkan penurunan harga minyak dan sejumlah konflik ladang minyak anak usaha di Timur Tengah seperti di Yaman. 
 
Di tengah lesunya harga minyak akibat kelebihan pasokan minyak, AP pun memutuskan untuk membeli 76,7 persen saham PT Newmont Energi Indonesia dengan dana USD2,2 miliar.
 
Gebrakan Medco ini termasuk berani karena kinerja Newmont tengah melemah pada kuartal III tahun ini sebagai akibat penurunan harga emas dan larangan ekspor konsentrat.
 
Seminggu sebelum pengumuman tersebut PT newmont telah mendapatkan izin ekspor dari pemerintah setelah menunjukan komitmen pembangunan smelter senilai USD3,3 Juta. 
 
Sejumlah Analis pun memperkirakan bisnis emas belum gemerlap karena harganya terus  merosot akibat tekanan dari penguatan dolar AS. Di sini diuji kehebatan AP dalam mengais peluang di tengah merosotnya harga komoditas.
 

 

 

 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan