Ilustrasi. FOTO: AFP.
Ilustrasi. FOTO: AFP.

Bisnis Migas Bisa Terdampak Virus Korona

Ekonomi migas Virus Korona
Suci Sedya Utami • 06 Februari 2020 20:37
Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai pengaruh virus Korona bisa berdampak pada bisnis minyak dan gas (migas).
 
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan virus yang penyebarannya berawal di Tiongkok telah membuat ekonomi negeri Tirai Bambu itu makin tersungkur. Permintaan yang berasal dari Tiongkok mengalami penurunan dan berpengaruh pada harga komoditas dunia termasuk migas. Apabila harga minyak makin lesu, maka akan mengganggu gairah investasi di sektor migas.
 
"Kalau terjadi penurunan permintaan di China dampaknya terhadap masalah harga, kalau harga turun sampai pada level di bawah USD40 per barel itu pasti berdampak pada investasi di oil and gas," kata Dwi di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mantan Direktur Utama Pertamina ini mengatakan hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak Virus Korona pada bisnis migas di Indonesia. Termasuk juga mengenai laporan terkait perusahaan migas asal Tiongkok (CNOOC) yang mengumumkan keadaan kahar (force majeure) yang tidak akan menerima pengiriman beberapa beberapa kargo gas alam cair (LNG) dari negara lain dikarenakan Virus Korona. Salah satu kontrak impor gas CNOOC berasal dari ladang gas Tangguh di Papua Barat.
 
Namun jika nantinya gas produksi dalam negeri tidak terserap oleh pembeli yang telah berkontrak, maka gas tersebut akan ditawarkan ke pasar spot. "Belum ada laporan, belum ada curtailment (pembatasan). Kalau ada pengembalian terus menyebabkan ada stok menumpuk, maka tentu saja kita akan pergi ke spot," ujar Dwi.
 
Tentunya, lanjut Dwi, SKK Migas akan berdiskusi dengan penjual gas tersebut akan dialihkan ke mana jika terjadi pembatalan kargo. Namun, mekanisme take or pay (ambil atau bayar) dalam setiap gas terkontrak diharapkan tidak akan mempengaruhi pendapatan dari penjualan gas tersebut meski tidak terserap. Dampak paling minimum adalah adanya pengaruh pada penurunan produksi untuk menahan laju stok gas.
 
Sementara itu, Organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC) berencana memangkas kembali produksi minyak sebagai sentimen untuk menaikkan harga minyak.
 
Hari ini Join Technical Committee OPEC+ kembali menggelar pertemuan untuk hari yang keempat. Pertemuan ini ditujukan untuk mendiskusikan kemungkinan pemangkasan produksi minyak lebih dalam guna mendukung stabilitas di tengah merebaknya virus corona yang membuat harga minyak anjlok.
 
Join Technical Committee yang merupakan komite yang memberikan nasihat untuk OPEC+ tengah berdiskusi tentang kemungkinan menaikkan pemangkasan minyak 500.000 barel per hari (bpd). Jika langkah ini diambil maka OPEC+ akan kembali memangkas produksi minyak hingga 2,2 juta bpd mulai Maret nanti.
 
"Pasar minyak mentah rebound setelah lima hari berturut-turut anjlok karena OPEC+ akan melakukan tindakan yang sesuai merespons merebaknya wabah virus corona" kata Stephen Innes, Chief Market Strategist di AxiCorp.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif