Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)
Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)

CAD Tinggi, DMO Batu Bara Picu Dilema

Ekonomi DMO Batu Bara
Nia Deviyana • 16 Mei 2019 06:32
Jakarta: PT Toba Bara Sejahtera (TOBA) menilai keputusan pemerintah dalam mempertahankan presentase kewajiban pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation atau DMO) sebesar 25 persen, menimbulkan dilema.
 
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No.78 K/30/MEM/2019 memuat presentase minimal tersebut diwajibkan bagi para pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah memasuki tahap operasi produksi.
 
Direktur TOBA Pandu Sjahrir mengatakan kebijakan tersebut memang memberi dampak baik pada Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menggunakan batu bara untuk menyokong beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Namun di sisi lain, kebijakan ini dapat mengurangi kuota ekspor.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ekspor jadi menurun. Padahal baru saja ada laporan bahwa defisit transaksi berjalan kita tinggi lagi. Ini tentu jadi dilema karena pasti kita didorong untuk meningkatkan produksi, dan tidak semudah itu (untuk meningkatkan produksi)," ujar Pandu usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 15 Mei 2019.
 
Besaran DMO sebanyak 25 persen setara dengan 122,28 juta ton atau seperempat dari target produksi batu bara nasional yang pada tahun ini berada di angka 489,13 juta ton.
 
Pada kesempatan yang sama Pandu berpendapat ketetapan harga batu bara sebesar USD70 per ton membuat situasi semakin sulit, di samping juga tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan PLN.
 
"Untuk DMO-nya kita dukung karena memang penting. Yang tidak kita dukung itu harganya di angka USD70. Oke lah karena bantu negara, dan PLN, tapi PLN masih rugi juga hampir Rp20 triliun. Kalau pun kita kasih gratis, PLN masih tetap rugi Rp10 triliun-Rp11 triliun," pungkasnya.
 
PLN pada tahun ini memperkirakan kebutuhan batu bara untuk PLTU meningkat sebesar lima persen menjadi 96 juta ton yang dipasok dari delapan perusahaan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif