NEWSTICKER
Ilustrasi. Ant/IGGOY EL FITRA.
Ilustrasi. Ant/IGGOY EL FITRA.

Pertamina Minta DMO Harga CPO untuk Produksi B100

Ekonomi pertamina kelapa sawit
Suci Sedya Utami • 29 Januari 2020 16:08
Jakarta: PT Pertamina (Persero) menyatakan butuh dukungan dalam bentuk domestik market obligation (DMO) baik dari sisi harga maupun volume pasokan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) untuk memproduksi biodiesel 100 persen (B100).
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya menargetkan dapat memproduksi B100 mulai 2022. Hal tersebut sesuai keinginan pemerintah untuk menambah dan mempercepat penerapan biodiesel dengan kadar lebih tinggi ke depannya untuk mengurangi impor solar dan menekan defisit perdagangan dan transaksi berjalan.
 
Untuk bisa memproduksi B100, perseroan menyiapkan strategi untuk dapat memproduksi B100. Salah satunya dengan melakukan perbaikan (revamping) Kilang Cilacap.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di 2022, itu yang selesai adalah revamping equipment di Kilang Cilacap. Jadi akan hasilkan B100, hasilnya 300 ribu ton per tahun," kata dia dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 29 Januari 2020.
 
Ia mengatakan namun untuk bisa melaksanakan B100 yang merupakan green diesel, pihaknya meminta dukungan pemerintah dan DPR untuk mendapatkan DMO minyak kelapa sawit baik secara harga maupun volume.
 
Dari sisi harga pihaknya menginginkan ada batas atas dan batas bawah untuk harga minyak sawit yang menjadi bahan baku biodiesel. Batas bawah berupa biaya produksi plus marjin untuk menjaga keberlangsungan bisnis produsen minyak sawit, dan batas atas sesuai harga pasar untuk menjaga keberlangsungan bisnis Pertamina.
 
"Untuk keberlangsungan dari green gasoline perlu support DMO palm oil, baik volume maupun harga seperti halnya PLN bangun 35 ribu MW yang butuh suplai batu bara besar dan harga ada batas bawah dan atasnya," ujar dia.
 
Dukungan lain yang dibutuhkan juga adalah terkait perpajakan. Pasalnya, selama proses produksi biodiesel tidak seluruhnya berada di kilang, pajak yang dikenakan bisa berlapis-lapis. Dia mencontohkan, pajak dikenakan ketika minyak sawit diolah ke fatty acid methyl eter (FAME) atau unsur nabati dalam hal ini minyak kelapa sawit, dan juga ketika FAME tersebut dilanjutkan diolah lagi.
 
"Kalau nanti B100 tidak akan kena pajak-pajak (berlapis) karena semua di kilang. Tetapi kalau masih di luar kilang, masih kena pajak-pajak. Jadi butuh support terkait pajak-pajak ini," tegas Nicke.

 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif