NEWSTICKER
Ilustrasi BBM Pertamax. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu.
Ilustrasi BBM Pertamax. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu.

Hijrah ke Pertamax

Ekonomi pertamina pertamax
Desi Angriani • 03 September 2019 14:25
"SAYA sudah hijrah ke bensin berkualitas", begitu cerita seorang pengemudi ojek online. Suyatno panggilannya, berkisah di sepanjang perjalanan dari Jakarta Pusat menuju Jakarta Barat.
 
Sebelum melanjutkan cerita, ia meminta izin berhenti di salah satu pom bensin terdekat di Jalan Abdul Muis. Suyatno mengantre di barisan BBM jenis pertamax. Malam itu, antrean bensin jenis pertamax dan pertalite tampak lebih panjang dibandingkan antrean premium.
 
Setelah mengisi lima liter bensin, motor Suyatno kembali melaju menembus kemacetan ibu kota. Dia mengaku cukup dilema memutuskan pindah ke bahan bakar dengan oktan lebih tinggi. Sebab, harga premium dan pertamax terpaut cukup jauh sebesar Rp2.850 per liter.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun harga tersebut setimpal dengan mesin motor yang awet dan jarang masuk bengkel. Berbeda saat ia masih menggunakan premium pada 2015 lalu. Motornya kerap mogok atau mati mendadak lantaran temperatur dan tekanan di dalam ruang bakar mesin cepat panas.
 
Ia pun mengibaratkan pemilihan BBM untuk kendaraan layaknya makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia. Jika sehat dan kaya nutrisi, daya tahan tubuh manusia menjadi lebih baik. Begitu jajan sembarangan, manusia bisa diare dan mengalami gangguan pencernaan lainnya. Biaya berobat ke rumah sakit pasti lebih mahal dibandingkan mengonsumsi makanan yang sehat.
 
"Buat mesin kalau dipakai itu saringan udaranya cepat kotor. Kalau pertamax, saringan udara tetap bersih, jadi enggak perlu di-service," ujarnya saat berbincang dengan Medcom.id.
 
Demi menjaga kesehatan motornya, Suyatno rela menyisihkan Rp1,5 juta per bulan untuk keperluan bensin jenis pertamax. Uang tersebut diambil dari total pemasukan ojek daring yang mencapai Rp5 juta per bulan. Sisanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan istri dan dua anaknya.
 
Terkadang, Suyatno masih membeli pertalite hanya bila kantongnya seret. Dalam sehari, ia mesti merogoh kocek Rp50 ribu atau setara enam liter bensin untuk mengantar pesanan makanan maupun mengantar pelanggan ojek online ke tempat tujuan.
 
"Konsumsi BBM sebulan sebagai driver ojek online Rp1,5 juta sudah termasuk pertalite dan pertamax," ungkap dia.
 
Selain Suyatno, seorang karyawan swasta di bilangan Jakarta Selatan juga memilih bahan bakar dengan angka oktan atau "Research Octane Number" (RON) 92. Pram, sapaan akrabnya, beralih mengonsumsi Pertamax sejak 2015.
 
Ia bilang kendaraan roda dua dan roda empat keluaran terbaru, dirancang untuk mengonsumsi BBM dengan oktan yang tinggi. Premium sudah tidak sesuai lantaran memiliki kadar RON 88. Premium disebut lebih mudah terbakar. Sisa pembakaran itu kemudian menjadi kerak atau kotoran yang menempel di blok sepeda motor.
 
Untuk sepeda motor terbaru yang memiliki rasio kompresi 9,0 hingga 10, minimal, katanya, mesti menggunakan pertalite dengan kandungan RON 90. Sementara motor dengan kompresi 10 sampai 11 semestinya mendapat asupan BBM dengan RON 92 atau pertamax.
 
"Kalau dibandingkan yang lain, dari sisi harga memang lebih murah, tapi efek jangka panjang ke mesin kendaraan enggak baik. Apalagi mesin mesin motor dan mobil sekarang direkomendasikan sama pabrikan pakai BBM yang kandungan oktannya 92," beber Pram kepada Medcom.id.
 
Lebih lanjut Pram menyarankan masyarakat memilih BBM bukan berdasarkan harga, tetapi kesesuaian dengan mesin kendaraan dan bilangan oktan. Semakin tinggi angka oktan bagi kendaraan, akan membuat pemakaian bahan bakar menjadi lebih irit.
 
"Walaupun harganya lebih tinggi, tapi lebih hemat ke depannya, karena motor atau mobil enggak cepat rusak,” katanya.

Konsumsi Premium Menurun

Realisasi konsumsi BBM jenis premium selama 2018 turun hingga 25 persen. Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), total penurunan premium mencapai 11,8 juta KL.
 
Konsumsi BBM premium tercatat turun sejak 2015, tepat setelah pemerintah mencabut subsidi bensin beroktan 88 itu. Realisasi penurunan premium di 2015 mencapai 27,6 juta kiloliter (kl). Pada 2016 realisasi kembali turun 21,6 juta kl. Penurunan kembali terjadi di 2017 dan 2018 dengan masing-masing menjadi 12,3 juta kl, dan 9,27 juta kl.
 
Untuk wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali), konsumsi BBM premium masih tinggi yakni 64,63 persen dari kuota 4,3 juta kl atau sebanyak 2,78 juta kl. Sementara konsumsi BBM premium di wilayah non-Jamali 86,63 persen dari kuota 7,5 juta kl atau hanya 6,5 juta kl.
 
Penurunan realisasi BBM jenis premium ini tercermin pada kenaikan konsumsi pertamax di 2019. PT Pertamina (Persero) mencatat kenaikan signifikan penyaluran BBM berkualitas tinggi terjadi di wilayah Papua Barat pada 2019. Peningkatan konsumsi pertamax Juli lalu, mencapai 117 persen. Jika dibandingkan Desember 2018, konsumsi pertamax naik sebesar sepuluh kali lipat. Angka ini merupakan peningkatan tertinggi di wilayah operasional Pertamina MOR VIII.
 
Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR VIII Pertamina Brasto Galih Nugroho menyebut masyarakat di Papua Barat mulai move on atau beralih menggunakan BBM berkualitas untuk kendaraan jenis roda dua maupun roda empat.
 
Tingginya peningkatan penjualan pertamax di Papua Barat sangat dipengaruhi oleh penambahan outlet di beberapa wilayah. Saat ini terdapat 22 SPBU yang menyediakan produk pertamax di ujung Timur Indonesia itu.
 
"Kami melihat semakin banyak pelanggan setia Pertamina yang move on ke Pertamax," ujar Brasto dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.
 
Penambahan outlet pertamax di Papua Barat menyasar delapan kabupaten/kota. Wilayah tersebut ialah Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, dan Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Kaimana.
 
Pertamina berharap masyarakat di wilayah lain seperti Papua, Maluku, dan Maluku Utara semakin berminat move on ke bahan bakar berkualitas. Selain lebih ramah lingkungan, konsumsi pertamax turut mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini dikarenakan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) pertamax merupakan yang paling tinggi dibanding BBM jenis lainnya.

Pemakaian Pertamax Tekan Polusi Udara

Alat pengukur udara AirVisual, situs penyedia peta polusi udara, menyatakan kualitas udara di DKI Jakarta tidak sehat. Bahkan Jakarta sempat dinobatkan sebagai kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia.
 
Jakarta sempat di posisi pertama sebagai kota dengan kualitas udara terburuk. Nilai indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai 159. Posisi kedua ditempati Hanoi, Vietnam, dengan AQI mencapai 152. Delhi, India, di posisi ketiga dengan AQI mencapai 134.
 
Peningkatan polusi udara di ibu kota salah satunya disebabkan oleh pemakaian BBM dengan kualitas rendah. Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) mencatat Jakarta terpapar polutan sebanyak 19.165 ton per hari. Sumber utamanya berasal dari sepeda motor 44,53 persen, disusul bus 21,43 persen, truk 17,70 persen, mobil solar 1,96 persen, mobil bensin 14,15 persen, dan bajaj 0,23 persen.
 
Direktur KPBB Ahmad Safrudin menyebut premium 88, pertalite 90, solar 48, dan dexlite adalah contoh BBM berkualitas buruk yang tidak sesuai dengan kebutuhan teknologi kendaraan Indonesia. Bila pengguna kendaraan bermotor beralih menggunakan RON 92 atau kadar oktan di atasnya, pencemaran udara di Jakarta pun bisa turun 70 persen.
 
Warga ibu kota bisa beralih menggunakan pertamax turbo/pertamax HQ, dan perta-dex HQ untuk kendaraan berstandar Euro4. Sementara untuk kendaraan di bawah standar Euro 4 bisa memakai pertamax dan perta-dex.
 
"Keempat bahan bakar itu menyebabkan pencemaran udara. Di Jakarta sehari polutan bisa mencapai 19.165 ton dan itu paling banyak dari sepeda motor," ungkap Puput sapaannya saat dihubungi Medcom.id.
 
Menurutnya krisis pencemaran udara menjadi momentum warga ibu kota hijrah ke BBM berkualitas. Perlu usaha konkret dari semua pihak termasuk Pemprov DKI Jakarta. Misalnya, Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan larangan penggunaan BBM tidak ramah lingkungan dengan landasan Pasal 28 h UUD 1945 tentang hak akan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
 
"Gubernur punya wewenang ketika Jakarta didera pencemaran udara parah dan penduduk Jakarta kena penyakit, ispa, paru paru basah, paru-paru flek dan harus membayar biaya kesehatan. Maka gubernur bisa melarang penggunaan bahan bakar yang berkualitas rendah," tegasnya.
 
Pertamax pertama kali diluncurkan pada Desember 1999 sebagai pengganti premix 1994 dan super TT 1998 karena unsur yang terkandung di dalamnya berbahaya bagi lingkungan. Dalam proses pengolahannya, Pertamina menambahkan zat aditif yang berfungsi membersihkan bahan bakar.
 
Selain itu, pertamax bisa menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi, sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan pertamax lebih maksimal, karena bahan bakar diserap secara optimal.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif