Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.
Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.

Laba Bersih Pertamina Capai Rp10,56 Triliun

Ekonomi pertamina
Suci Sedya Utami • 07 November 2019 14:44
Jakarta: PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar USD753 juta hingga kuartal ketiga 2019. Namun apabila memasukkan komponen kompensasi selisih harga jual bahan bakar minyak (BBM) menjadi USD1,7 miliar atau setara Rp10,56 triliun.
 
Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansyuri mengatakan ada tambahan sekitar USD1 miliar dari kompensasi selisih harga. Kendati demikian kompensasi tersebut masih harus menunggu audit resmi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 
"Biasanya kan memang kompensasi harus menunggu adanya audit BPK dan Keputusan Menteri Keuangan. Kalau tidak termasuk (kompensasi) kurang lebih UDD753 juta," kata Pahala ditemui di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 7 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya hingga kuartal kedua atau semester pertama, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar USD660 juta atau setara Rp9,4 triliun. Laba tersebut naik 112 persen dibanding periode sebelumnya yang sebesar USD311 juta atau setara Rp4,4 triliun.
 
Pahala menjelaskan kenaikan laba bersih ini terutama dipicu oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar enam persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Penurunan beban ini salah satunya didorong oleh harga rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) pada semester I-2019.
 
"Rata-rata ICP pada semester 1-2018 sekitar USD66 per barel, sementara pada semester I tahun ini sekitar USD63 per barel. Selain berdampak pada penurunan biaya bahan baku, secara bersamaan hal tersebut memang berpengaruh pada penurunan pendapatan. Namun karena dikombinasikan dengan efisiensi biaya operasional lainnya, biaya dapat ditekan lebih banyak lagi," kata Pahala.
 
Selain itu penurunan impor minyak mentah sebagai dampak dari penyerapan minyak mentah domestik yang semakin meningkat juga membuat biaya semakin efisien. Hingga akhir Juli 2019, total kesepakatan pembelian minyak mentah dan kondensat dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) domestik mencapai 123,6 ribu barel minyak per hari. Hal ini membuat marjin menjadi lebih baik di kisaran 14 persen untuk Gross Profit Margin dan delapan persen untuk Operating Profit Margin.
 
Peningkatan kinerja ini juga tercermin dari arus kas bersih dari aktivitas operasi yang makin kuat yaitu USD1,57 miliar atau meningkat dua kali lipat dari posisi semester satu tahun lalu yang sebesar USD756 juta. Sehingga meski terdapat peningkatan pada aktivitas investasi dan pembayaran pinjaman, cash-on-hand tetap terjaga di level USD7,38 miliar atau lebih baik daripada semester yang sama di tahun lalu.
 
Di sisi kinerja operasional hulu, produksi minyak mentah Pertamina tetap digenjot naik menjadi 413 ribu barel minyak per hari lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 385 ribu barel minyak per hari. Dalam konteks kemandirian energi dan ketersediaan energi berkualitas tinggi, proyek strategis yang berhasil diselesaikan perseroaan yakni proyek Langit Biru Cilacap. Proyek senilai USD392 juta ini telah beroperasi dan menghadirkan BBM berkualitas di Indonesia setara dengan EURO empat dengan total kapasitas yang meningkat mencapai 1,6 juta barel per bulan.
 
Selain itu, peningkatan volume penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada semester pertama 2019 mencapai sebesar 34,1 juta kiloliter (KL). Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 33,9 juta KL. Sementara itu, untuk penjualan produk non-BBM juga mengalami peningkatan dari periode sebelumnya sebesar 7,9 juta KL menjadi 8,3 juta KL. Bahkan sejak Mei 2019, Avtur dan Solar sudah tidak perlu diimpor karena telah dapat dipenuhi dari produksi kilang Pertamina.
 
Pahala menambahkan selain mencatatkan kinerja keuangan yang membaik, Pertamina juga meraih sejumlah pencapaian yang berarti selama pertengahan awal tahun ini, di antaranya, kemajuan positif dalam pembangunan refinery development master plan (RDMP) dan grass root refinary (GRR) ataupun proyek infrastruktur migas lainnya.
 
Masuknya Pertamina ke dalam daftar Fortune Global 500 pada peringkat 175 turut membuktikan pencapaian tinggi Pertamina saat ini. Peringkat ini lompat 78 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya yang ada di peringkat 253. Pencapaian lain yang patut dicatat adalah keberhasilan Pertamina dalam melaksanakan Program BBM Satu Harga di 154 titik, yang makin mendekati target yang ditetapkan Pemerintah, yaitu 160 titik hingga akhir 2019.
 
"Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua stakeholder sehingga Pertamina dapat menjalani semester I 2019 dengan sejumlah pencapaian. Kami optimistis kinerja perusahaan akan terus positif hingga akhir tahun," tandas Pahala.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif