Ilustrasi biofuel. Foto : Medcom/Desi A.
Ilustrasi biofuel. Foto : Medcom/Desi A.

Penggunaan B30 Hemat Impor hingga USD8 Miliar

Ekonomi biofuel
Eko Nordiansyah • 28 November 2019 17:21
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan penggunaan bahan bakar biodiesel campuran nabati biodiesel 30 persen (B30) bisa menghemat devisa. Bahkan penghematan impornya bisa mencapai USD8 miliar.
 
Menurut Airlangga, penggunaan B30 bisa menyerap minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) produksi dalam negeri. Jika penggunaan B30, maka penyerapan CPO bisa sebanyak 10 juta kiloliter (KL).
 
"Ini bisa efektif mengurangi defisit neraca dagang," kata Airlangga dalam seminar di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 28 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan penggunaan B30 merupakan salah satu cara pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD). Pasalnya selama ini, impor impor minyak dan gas (migas) menyumbang CAD cukup besar.
 
"Sedang kita siapkan juga dengan berbagai kementerian, programnya adalah terkait dengan defisit neraca perdagangan dan pengurangan CAD. Beberapa program itu adalah mandatory B20, bahkan kita siapkan road map B50, B70, bahkan B100. Untuk CPO ini kita targetkan dalam dua tahun," jelas dia.
 
Selain B30, pemerintah juga tengah menyiapkan program untuk penggunaan bahan bakar avtur menjadi green avtur. Airlangga yakin program ini bisa menghemat USD2 miliar sehingga mendorong perbaikan neraca dagang serta mengurangi ketergantungan migas.
 
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kebijakan pencampuran solar dengan bahan bakar nabati (BBN/FAME) dengan kadar 30 persen atau B30 siap diimplementasikan mulai 1 Januari 2020. Hal tersebut setelah adanya uji jalan (road test) B30 pada kendaraan bermesin diesel.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif