Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Pemerintah Siapkan Insentif untuk Kembangkan Panas Bumi

Ekonomi panas bumi
Suci Sedya Utami • 13 Agustus 2019 16:52
Jakarta: Pemerintah sedang menyiapkan insentif demi pengembangan panas bumi (geothermal) untuk sektor kelistrikan. Saat ini  harga yang masih mahal menyebabkan pengembangan panas bumi terkesan lambat.
 
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kemeneterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan panas bumi menjadi sektor yang menjadi perhatian Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menjabat kembali.
 
Dia bilang saat itu Sri Mulyani meminta studi detail mengenai panas bumi berdasarkan referensi penerapan panas bumi di berbagai negara seperti Selandia Baru, Filipina, dan Amerika Serikat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pemerintah akan mengupayakan menyiapkan insentif sehingga harga panas bumi bisa kompetitif," kata Toto dalam konferensi geothermal internasional ke-7 di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.
 
Insentif tersebutm kata Toto bisa diberikan dalam berbagai jenis, salah satunya melalui sistem reimburse. Misalnya membangun pembangkit listrik panas bumi (PLTP) dibiayai terlebih dahulu oleh developer tapi nanti di-reimburse oleh pemerintah.
 
"Nah strategi-strategi itu kita upayakan agar potensi panas bumi berkembang," ucap Toto.
 
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia Prijandaru Effendi mengatakan pengembangan panas bumi memang terhambat oleh harga keekonomian yang tidak sesuai dengan kemampuan PT PLN (Persero).
 
Namun dia mengatakan panas bumi menjadi alternatif yang bisa ditawatkan untuk bisa menggantikan energi fosil yang diperkirakan akan habis. Apalagi penggunaan panas bumi dinilai lebih mudah ketimbang energi lainnya.
 
Dia mencontohkan saat ada pemadaman atau blackout minggu lalu, salah satunya ditenggarai karena lamanya pembangkit untuk masuk ke sistem. Sementara pemnbangkit panas bumi bisa masuk ke gridline lebih dahulu karena tidak memerlukan coldstart terlalu lama. Energi ini hanya butuh dua hingga tiga jam untuk masuk dalam grid.
 
Lebih lanjut, Prijandaru mengayakan dia yakin pengembangan energi panas bumi bisa dilakukan. Terutama untuk mengejar kebijakan bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen di 2025.
 
"2025 memang terlalu optimistic tapi kita harus memaksakan itu semaksimal mungkin kejar target tersebut. Berapa hasilnya? Kita lihat di 2025," jelas Prijandaru.
 
Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyindir pengembangan pemanfaatan geothermal sebagai energi listrik di tanah air lambat. JK mengatakan geothermal bukan merupakan barang baru bagi Indonesia, bahkan pemanfaatan geothermal di Kamojang sudah beroperasi sejak 35 tahun silam.
 
"Geothermal bukan barang baru, meskipun sudah tujuh kali conference tapi kemajuan (pemanfaatan geotermal) lambat, hasilnya 2.000 megawatt (MW)," kata JK.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif