NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM
Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM

Pemerintah Minta Produksi Blok Masela Dikebut di 2026

Ekonomi blok masela
Suci Sedya Utami • 20 Februari 2020 08:33
Jakarta: Pemerintah meminta Inpex mempercepat produksi atau onstream proyek Lapangan Abadi di Blok Masela. Dalam jadwal awal, produksi di lapangan migas tersebut ditargetkan pada 2027, namun diminta agar diakselerasi menjadi 2026, salah satu tujuannya agar negara bisa mendapatkan penerimaan lebih cepat.
 
Sebab, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menjelaskan, dari produksi tersebut dengan skema bagi hasil pemerintah setidaknya mendapatkan bagian atau split sebesar 50 persen. "Supaya dapat revenue," kata Arifin, dalam penandatanganan jual beli gas Blok Masela, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Rabu, 19 Februari 2020.
 
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satuan Kerja Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, untuk percepatan sesuai arahan Menteri ESDM, beberapa tahapan dalam pengerjaan proyek memang dilakukan akselerasi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Misalnya, ia mengatakan, izin lokasi yang prosesnya hanya satu pekan. Kemudian Front End Engineering Design (FEED) yang diharakan paling lambat di akhir 2021. Secara pararlel juga dilakukan Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan di 2021.
 
Di waktu yang bersamaan juga melakukan survei dan analisis dampak dan lingkungan (amdal), sekalugus pembebasan lahan yang kata Dwi telah disepakati dengan Gubernur Maluku untuk dipercepat dari dua tahun menjadi satu tahun atau paling lambat bisa diselesaikan di 2022. Setelah itu masuk ke tahap konstruksi.
 
"Kalau sudah FID, konstruksi jalan. Kalau schedule asli diharapkan 2022, yang pasti kita komit untuk mempecepat," kata Dwi.
 
Untuk mencapai FID, Dwi mengatakan, paling tidak harus ada komitmen penjualan gas sebesar 80 persen dari produksi. Produksi selama kontrak sebesar 16,38 triliun standar kaki kubik atau TSCF (gross).
 
Adapun penjualan gasnya sebesar 12,95 TSCF dengan kapasitas produksi Kilang LNG 9,5 juta ton per tahun (MTPA) dan 150 juta standar kaki kubik (mmscfd) untuk gas pipa, serta produksi kumulatif kondensat sebesar 255,28 juta barel (MMSTB).
 
Saat ini yang telah berkomitmen menyerap gas saat blok tersebut berproduksi yakni PT PLN (Persero) sebesar 2-3 juta ton per tahun dan PT Pupuk Indonesia (Persero) sebesar 150 mmscfd.
 
Setelah dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, selajutnya yang akan dikejar untuk menyerap yakni end-user, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang nantinya juga akan menjual ke industri-industri melalui jaringan pipa gas kota, kemudian PT Pertamina (Persero).
 
"Pertamina dengan adanya pengembangan kilang dia kan butuh, itu yang akan dikejar," ucap Dwi.
 
Selain itu, masih kata Dwi, beberapa bagian juga akan diekspor salah satunya yang akan menyerap yakni pembeli dari Jepang, mengingat Inpex yang menjadi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di blok tersebut berasal dari Jepang. Porsi untuk penjualan gas ke dalam negeri dan luar negeri, Dwi bilang, sebesar 50:50 persen.
 
Sebagai informasi, pengembangan Blok Masel bakal menelan investasi sekitar USD20 miliar.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif