Iustrasi. Foto : AFP.
Iustrasi. Foto : AFP.

Lead Konsorsium Blok Masela Diminta dari Perusahaan Lokal

Ekonomi blok masela
Husen Miftahudin • 09 Desember 2019 14:00
Jakarta: SKK Migas diminta untuk memprioritaskan perusahaan lokal sebagai lead konsorsium saat dual Front Engineering End Design (FEED) dan EPC untuk Kilang LNG dan Floating Production Storage & Offloading (FPSO) di proyek Lapangan Gas Abadi blok Masela, Laut Timor, Maluku.
 
Hal ini diminta Gabungan Asosiasi Usaha Penunjang Energi dan Migas (Guspenmigas) yang mendengar kabar bahwa SKK Migas mengedepankan perusahaan internasional ketimbang perusahaan lokal sebagai lead konsorsium.
 
"Kami meminta SKK Migas jangan setengah hati mendukung P3DN di proyek Masela dan proyek-proyek lainnya di lingkup migas," ucap Direktur Eksekutif Guspenmigas Kamaluddin Hasyim dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kamaluddin mengharapkan pejabat SKK Migas paham terkait aturan Pedoman Tata Kerja (PTK) Nomor 007 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang/Jasa. Juga mengerti soal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberdayaan Industri.
 
"Aturan itu mengedepankan perusahaan lokal dan barang wajib sebagai lead consortium," tegas dia.
 
Santer terdengar, lelang prakualifikasi FEED di proyek Kilang LNG Masela memilih perusahaan asing sebagai lead konsorsium proyek. Padahal secara portofolio kemampuan perusahaan dalam negeri sudah setara dengan perusahaan asing. Anggota Guspenmigas misalnya, sudah berpengalaman layaknya perusahaan asing. Bahkan beberapa proyek migas nasional pernah dikerjakan oleh beberapa anggota Guspenmigas.
 
"Anggota asosiasi dan perusahaan Guspenmigas sudah berpengalaman di berbagai proyek. LNG Tangguh, Badak, Arun, dan sudah pernah kita kerjakan dan dipakai barangnya. Sedangkan untuk Kilang RDMP sedang berproses untuk dikerjakan dan disuplai barangnya atas dasar pengalaman dan kemampuan di Indonesia," pungkas Kamaluddin.
 
Guspenmigas adalah wadah gabungan dari berbagai asosiasi dan organisasi antarperusahaan yang dibentuk berdasarkan keseragaman kompetensi, pengalaman, dan profesi di bidang-bidang usaha penunjang minyak dan gas.
 
Adapun anggota Guspenmigas terdiri dari Gabungan Perusahaan Nasional Rancang Bangun Indonesia (Gapenri), Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Asosiasi Perusahaan Inspeksi Teknik Indonesia (Aptindo), Asosiasi Pemboran Migas Indonesia (APMI), Asosiasi Produsen Pipa Pemboran Migas Indonesia (Apropipe), Asosiasi Produsen Wellhead Indonesia (APWI), Himpunan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia (Gapipa), Indonesia Nasional Shipowner’s Association (INSA).
 
Kemudian Asosiasi Produsen Kimia Penunjang Migas (Aprokip), Asosiasi Industri Penunjang Migas (Inpemigas), Asosiasi Sistem Metering Indonesia (Asmeti), Asosiasi Produsen Cat Indonesia (APCI), The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Asosiasi Produsen Pompa Angguk Indonesia (APPAI), Association Personal Protective Clothing Indonesia (APPCI), dan Asosiasi Fabrikator Indonesia (AFABI).

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif