Ilustrasi. FOTO: MI/MOHAMAD IRFAN
Ilustrasi. FOTO: MI/MOHAMAD IRFAN

PLN Alihkan 52 Pembangkit untuk Gunakan Gas

Ekonomi pln
Suci Sedya Utami • 18 Januari 2020 12:51
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) berencana melakukan konversi penggunaan bahan bakar sebanyak 51-52 pembangkit listriknya ke gas. Konversi tersebut dilakukan untuk memangkas biaya produksi listrik serta mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
 

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan langkah tersebut sebenarnya telah diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memasukkan 51-52 pembangkit yang perlu dikonversi ke gas.
 
"Kepmen itu golnya adalah facing out konsumsi BBM digantikan gas. PLN ada langkah-langkah sistematis, dilihat pembangkit mana yang bisa di-facing out,” kata Darmawan, di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kendati telah terdaftar 51-52 pembangkit, namun Darmawan belum memastikan apakah seluruh pembangkit akan dikonversi menggunakan gas. Ia mengatakan pihaknya bakal melakukan seleksi berdasarkan faktor kapasitas (capacity factor) pembangit.
 
Darmawan menjelaskan, PLN telah membagi beberapa klaseter untuk pembangkit listrik yang membutuhkan pasokan gas. Pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) nantinya akan didistribusikan dengan sistem hub and spoke yang akan dibangun penghubung atau hub dan fasilitas regasifikasi di dekat pembangkit listrik.
 
Sistem ini dipilih lantaran sebagian pembangkit berlokasi di kawasan timur yang berupa kepulauan. “LNG akan didistribusikan langsung ke plant gate. Seperti apa infrastrukturnya, kami sesuai perintah dari Kepmen,” ujar dia.
 
Mengacu data PLN, terdapat 10 klaster LNG untuk pembangkit listrik. Rincinya, klaster Sumatara bagian utara, Kepulauan Riau, Jawa bagian barat, Jawa bagian timur, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Papua bagian utara, Maluku bagian utara, serta Maluku bagian selatan-Papua.
 
Beberapa pembangkit dalam 10 klaster tersebut sudah menggunakan LNG, yakni PLTMG Arun, PLTGU Belawan, PLTGU Tanjung Priok, PLTGU Muara Karang, PLTGU Tambak Lorok, PLTGU Gresik, PLTGU Grati, dan PLTGU Pesanggaran.
 
Selain itu, pekan depan pihaknya juga akan bertemu dengan PT Pertamina (Persero) untuk membahas rencana gasifikasi pembangkit listrik. Ia bilang gasifikasi pembangkit listrik ini penting tidak hanya bagi PLN namun juga negara.
 
Dengan beralih ke gas, konsumsi BBM di pembangkit listrik dapat dikurangi sehingga ujungnya konsumsi dan impor BBM nasional dapat dipangkas, dan ekonomi nasional akan membaik. Pasalnya, setiap impor senilai Rp140 triliun akan menekan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen.
 
Bagi PLN, meski harga LNG bisa mencapai USD12-14 per juta british thermal unit (million british thermal unit/mmbtu), tetap akan lebih murah dibandingkan solar yang sekitar USD20 per mmbtu. Di sisi lain, kesinambungan pasokan gas juga terjamin mengingat beberapa proyek gas besar tengah digarap, salah satunya Proyek Kilang LNG Abadi, Blok Masela.
 
“Artinya ini mengubah energi berbasis impor menjadi domestik, ditambah lagi cost saving sehingga kesehatan finansial PLN akan lebih baik,” tutur dia.
 
Berdasarkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, konsumsi LNG perseroan direncanakan terus meningkat. Pada 2020, kebutuhan LNG untuk pembangkit listrik sebesar 221 triliun british thermal unit (TBTI). Kebutuhan LNG turun di tahun depan menjadi 215 TBTU, kemudian kembali naik menjadi 229 TBTU pada 2022, 275 TBTU pada 2024, dan mencapai 417 TBTU di 2028.
 
Sebaliknya, konsumsi BBM direncanakan terus turun dari 1,8 juta kiloliter (KL) di 2020 menjadi 1 juta KL di 2021, 85 ribu KL di 2022, dan mencapai titik terendah 69 ribu KL di 2024. Namun, konsumsi BBM kembali naik tipis menjadi 76 ribu KL pada 2025 dan menjadi 88 ribu KL di 2028.
 
Masih berdasarkan RUPTL 2019-2028, dalam 10 tahun ke depan, penambahan kapasitas pembangkit gas direncanakan mencapai 12.416 megawatt (MW) dari total 56,39 gigawatt (GW). Sementara tambahan pembangkit diesel (PLTD) hanya 201 MW.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif