Ilustrasi. Foto: Antara
Ilustrasi. Foto: Antara

Penemuan Sumur Migas Terbesar Kesepuluh Dunia Diapresiasi

02 Maret 2019 21:45
Jakarta: Anggota Komisi VII DPR Kurtubi mengapresiasi keberhasilan Pertamina menemukan sumur minyak dan gas (migas) Parang-1 di Blok Nunukan. Sumur itu memiliki potensi cadangan sebesar 1.430 juta barel setara minyak (MMBOE) sehingga termasuk dalam 10 besar penemuan migas di dunia.
 
"Ini membuktikan keandalan Pertamina. Penemuan sumur baru dengan cadangan sangat besar adalah bukti mereka bisa mengatasi berbagai kendala teknis," kata Kurtubi, seperti dilansir Antara, Sabtu, 2 Maret 2019. 
 
Sebelumnya, Pertamina telah menemukan potensi cadangan luar biasa di sumur Pointsetia-1 di Sumatera dengan potensi cadangan 3,3 MMBOE. Lalu, sumur Haur Gede-1 (HGD-1) di Pulau Jawa dengan potensi cadangan 15,8 MMBOE. Dan, sumur PIN-1 di Pulau Jawa dengan potensi cadangan 1,94 MMBOE. 

Ada juga sumur Randu Gunting (RGT) di Blok Alas dan Kemuning (ADK) dengan potensi cadangan sebesar 12,5 MMBOE dan sumur Nglobo Utara-1x (NGU-1X) di blok ADK dengan potensi cadangan 23,2 miliar kaki kubik gas (BCFG). 
 
Politisi Partai NasDem ini berharap pengelolaan migas di Tanah Air dikembalikan sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sehingga, semua sumber daya dan cadangan migas dikuasai dan dimiliki oleh negara melalui perusahaan negara yang dibentuk dengan UU. 
 
"Dengan demikian, hanya negara melalui National Oil Company (NOC) tersebut, yang boleh mencari dan memproduksikan migas di tanah air," katanya. 
 
Menurut dia, dengan mengembalikan pengelolaan migas sesuai Pasal 33 UUD 1945, maka Pertamina akan semakin kuat. Sehingga, nantinya yang berkontrak adalah perusahaan dengan perusahaan (business to business). 
 
Baca: Pertamina Tancap Gas di Blok Rokan Tahun Ini
 
Kalaupun ada perusahaan migas yang akan beroperasi di Indonesia, tambahnya, sudah cukup kontrak dengan perusahaan minyak negara. Kurtubi menegaskan pengelola migas memang seharusnya dilakukan perusahaan negara. 
 
"Bahkan, berdirinya Pertamina merupakan konsep asli Indonesia yang telah ditiru oleh lebih dari 50 negara dunia," katanya. 
 
Dia mencontohkan pengelolaan migas di Arab Saudi yang dikelola Saudi Aramco yang merupakan perusahaan negara tersebut. Begitu pula dengan Sonatrach di Aljazair dan Petróleos de Venezuela, SA (PDVSA) di Venezuela.
 
"Malah, negara non-OPEC seperti Malaysia pun meniru sistem kelola migas Indonesia. Dalam membentuk perusahaan minyak negara pun, UU mereka meniru mentah-mentah milik Indonesia. Hasilnya, pengelolaan migas di negeri jiran pun hanya dilakukan NOC mereka yakni Petronas dan perkembangannya semakin maju," katanya.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UWA)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan