Menurutnya, dengan mengakuisisi Newmont menjadi suatu pembuktian bahwa Indonesia merupakan bangsa besar dan mampu mengelola pertambangan-pertambangan besar.
"Inisiatif pak Airifin mengakuisisi Newmont sangat bagus. Ini membuktikan bahwa kekuatan nasional mampu membeli dan mengelola pertambangan besar. Ini penting, karena selama ini selalu didengung-dengungkan seolah-olah kita tidak mampu," ujar Rizal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/11/2015).
Rizal mengatakan, hal lain yang membanggakan dari langkah ini, yaitu Arifin juga sudah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan atas Newmont tersebut. Salah satunya adalah komitmennya membangun smelter (pemurnian) yang bisa meningkatkan nilai tambah hasil tambang.
Pembangunan smelter merupakan kewajiban perusahaan pertambangan seperti diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2009. Terkait pembangunan smelter, Arifin Panigoro menyatakan pihaknya akan langsung mengerjakan pembangunannya begitu proses akuisisi tuntas. Diharapkan semua soal teknis akuisisi bisa tuntas pada akhir Desember. Dengan demikian, pembangunan smelter bisa dikerjakan pada awal tahun depan.
"Saat ini produksi Newmont mencapai 400.000 ton tembaga. Sedangkan emasnya tidak terlalu banyak. Kami akan membangun smelter dengan kapastitas 500.000 ton, sekaligus sebagai persiapan bila tambang di sebelah ladang Batu Hijau mulai berproduksi," jelas Arifin.
Lebih lanjut, hal lain yang diminta Rizal kepada Arifin adalah agar tambang Newmont tidak berubah menjadi kluster seperti pertambangan besar lainnya. Sistem kluster telah menimbulkan kesenjangan yang amat lebar dengan penduduk sekitar tambang.
"Di lokasi tambang infratsruktur dan sarana dibangun sangat mewah. Sebaliknya di permukiman sekitar tambang tetap saja miskin dan terbelakang," papar Rizal Ramli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News