Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. FOTO: Setkab
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. FOTO: Setkab

2019, Konsumsi Solar Subsidi Bengkak hingga 16 Juta KL

Ekonomi pertamina solar subsidi Subsidi Solar
Suci Sedya Utami • 29 November 2019 07:41
Jakarta: PT Pertamina (Persero) memperkirakan konsumsi solar bersubsidi akan mencapai 16 juta kiloliter (KL) hingga akhir 2019. Prognosa tersebut melebihi kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 14,5 juta KL.
 
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI. Nicke mengatakan sejak September pihaknya telah melaporkan ada peningkatan konsumsi terutama di daerah-daerah industri pertambangan dan perkebunan.
 
"Kami melihat memang terjadi kekurangan di beberapa daerah," kata Nicke, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 28 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peningkatan permintaan tersebut membuat kuota solar subsidi diperkirakan hanya mampu menutup kebutuhan hingga akhir November. Artinya terdapat over kuota sebesar 1,5 juta KL. Ia mengatakan pemerintah menyetujui ditambahkannya kuota solar subsidi. Untuk itu, pihaknya bekerja dengan batasan kuota solar bersubdisi sebesar 16 juta KL pada tahun ini.
 
"Dengan demikian ini angka yang akan kami jadikan dasar penyaluran biosolar pada 2019 yaitu angkanya 16 juga KL," tutur Nicke.
 
Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan kuota solar subsidi ditentukan dalam ABPN. Namun, jika kuotanya ditentukan sebesar 14,5 juta KL maka bukan berarti produksi solarnya berhenti di angka tersebut.
 
Djoko bilang produksinya tetap berlanjut dan sehingga stoknya pun tidak akan habis begitu kuotanya telah habis. Djoko menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meski kuotanya telah habis. Apalagi, dia menambahkan, kebijakan biodiesel 30 persen sudah dimulai.
 
Djoko mengatakan hingga akhir Oktober kuota solar subsidi yang tereserap yakni mencapai sekitar 13 juta KL sehingga jika dirata-rata serapan solar dalam sebulan sekitar 1,3 juta KL. Artinya, kata Djoko, perkiraan over kuota untuk menutup konsumsi di Desember sekitar 1,3 juta KL.
 
"Pasokan tambahan lebih dari cukup. Seberapa pun kebutuhan masyarakat akan dikasih, jangan disalahgunakan," tutur Djoko.
 
Senada dengan peningkatan permintaan solar, realisasi permintaan premium juga diperkirakan meningkat pada 2019 dibandingkan dengan tahun lalu. Nicke mengatakan hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah untuk mendistribusikan premium di Jawa Madura dan Bali.
 
Untuk itu, mulai 28 Mei 2018 Pertamina menambah penyaluran premium di 571 Satuan Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Nicke menyebut, prognosa distribusi premium tahun ini mencapai 12 juta KL atau lebih besar dari kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 11 juta KL.
 
Adapun untuk elpiji tabung tiga kilogram atau bersubsidi, Nicke menyebut, prognosa penyaluran tahun ini akan meningkat. Tahun lalu, total distribusi elpiji bersubsidi sebesar 6,5 juta metrik ton, sementara tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 6,9 juta metrik ton.
 
"Karena ada program konversi BBM ke elpiji khususnya (kawasan) Indonesia bagian tengah untuk nelayan dan petani. Prognosa 2020 kami perkirakan mencapai 7,22 juta metrik ton," pungkas Nicke.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif