Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. MI/ROMMY PUJIANTO
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. MI/ROMMY PUJIANTO

Biaya Tinggi Jadi Tantangan Besar Industri Hulu Migas

Ekonomi migas skk migas
Suci Sedya Utami • 10 Oktober 2019 14:28
Jakarta: Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan tantangan terbesar dalam industri migas ialah tingginya biaya investasi dan risiko. Adapun dari 128 cekungan atau lapangan migas yang ada baru 54 cekungan yang dieksplor. Dari angka tersebut baru 18 cekungan yang berproduksi.
 
Di sisi lain, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, kegiatan di hulu migas membutuhkan waktu pengerjaan yang lama atau tidak singkat. Oleh karenanya, dia mengungkapkan, apabila ingin mendapatkan kepastian pengembalian atau keuntungan dalam waktu yang cepat maka Internal Rate of Return (IRR) harus besar.
 
"Salah satu tantangan dalam industri ini adalah tingginya biaya, dan risiko yang banyak, IRR harus masuk angka besar dan periode eksplorasi yang cukup panjang ini jadi kendala," tutur Dwi, dalam Sarasehan Migas Nasional kedua di kantor pusat SKK Migas, City Plaza, Jakarta Selatan, Kamis, 10 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, SKK Migas berkomitmen untuk tetap mendorong aktivitas hulu migas. Ada empat strategi untuk mengembangkan industri hulu migas. Pertama optimalisasi kegiatan eksisting. Hal ini juga dilakukan untuk menekan angka penurunan produksi (decline). Adapun langkahnya dengan rutin mengendalikan pelaksanaan dan kontrol proyek.
 
Kedua yakni simplifikasi perizinan. Mantan Dirut Pertamina ini mengatakan perizinan yang ada sudah sangat optimum. Ketiga, penggunaan teknologi yang mumpuni. Salah satu teknologi yang digunakan untuk menjaga hingga meningkatkan produksi migas ialah Enhanced Oil Recovery (EOR).
 
Keempat menggalakkan eksplorasi. Untuk mendorong kegiatan eksplorasi, pemerintah melalui Komitmen Kerja Pasti (KKP) yang berasal dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKP) pemenang lelang telah mengumpulkan dana sebesar USD2,4 miliar atau sekitar Rp30 triliun.
 
Dana tersebut nantinya bisa digunakan sebagai investasi guna kegiatan eksplorasi migas di Tanah Air. "Komitmen tersebut untuk mengaktifkan kegiatan eksplorasi di masa depan. Selanjutnya yakni tentu bahwa menyiapkan alat dan kebutuhan untuk kita ekplorasi," pungkas Dwi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif