Illustrasi. MI/Liliek.
Illustrasi. MI/Liliek.

Subsidi Bengkak karena Orang Kaya Masih Beli Elpiji 3 Kg

Ekonomi elpiji 3 kg
Eko Nordiansyah • 25 Juni 2019 19:12
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai distribusi elpiji 3 kilogram (kg) membuat anggaran subsidinya selalu membengkak. Bahkan orang-orang kaya yang seharusnya tidak membeli elpiji 3 kg justru masih menggunakannya.
 
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara mengatakan golongan masyarakat manapun bisa bebas membeli elpiji 3 kg yang disubsidi. Bukan hanya itu, elpiji yang dijual bebas juga berpotensi terjadi arbitrase, artinya ada yang bisa dioplos atau bisa ditimbun.
 
"Bahkan kelompok 10 persen paling kaya itu pun masih bisa beli tabung elpiji 3 kg. Ini yang kadang-kadang kita sebut bocor, artinya dinikmati bukan oleh yang berhak," kata dia dalam rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya menambahkan harga elpiji 3 kg yang tidak naik sejak 2008 juga menjadi penyebab naiknya subsidi. Pasalnya pemerintah harus menanggung selisih biaya dari harga jual dengan harga internasional yang bergantung pada asumsi harga minyak mentah (ICP) dan nilai tukar.
 
"Harga eceran itu tetap. Jadi kalau lagi melebar dibayar oleh anggaran keuangan negara. Kalau harga internasional sedang turun, maka berkurang subsidinya," jelas dia.
 
Oleh karena itu pemerintah tetap akan menganggarkan subsidi untuk selisih harga ketika terjadi kenaikan di harga internasional. Pemerintah juga tengah melakukan uji coba agar penyaluran elpiji 3 kg yang subsidi bisa tepat sasaran.
 
"Beberapa mekanisme telah diujicoba termasuk menggunakan sistem geometrik, e-voucher dan ujicoba oleh beberapa kementerian lembaga di pemerintah. Teknologinya ada, bisa digunakan," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif