Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan. (FOTO: MI/BARY FATHAHILAH)
Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan. (FOTO: MI/BARY FATHAHILAH)

Kasus Karen tak Ganggu Investasi Pertamina

Ekonomi Kasus hukum Karen Galaila
Suci Sedya Utami • 12 Juni 2019 15:51
Jakarta: PT Pertamina (Persero) menyatakan tetap tancap gas melakukan investasi di sektor hulu minyak dan gas (migas). Kasus yang menimpa mantan Direktur Utama Pertamina Karen Galaila Agustiawan tidak menyurutkan aksi korporasi untuk berinvestasi.
 
Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan mengatakan investasi di Pertamina tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dia bilang tidak ada strategi bisnis yang diubah karena adanya kasus tersebut.
 
"Enggak ada rencana penghentian investasi, enggak mengubah strategi bisnis juga. Kita masih ada rencana bisnis yang sedang sounding," kata Heru di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Heru mengatakan prinsip kehati-hatian tetap dilakukan oleh Pertamina setiap kali melakukan aksi korporasi. Pertamina tetap menerapkan prinsip tata kelola perusahaan sebaik mungkin (good corporate governance/GCG).
 
Hal senada juga disampaikan Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto. Menurut Djoko kasus Karen mesti menjadi hikmah bagi perseroan dalam membuat keputusan bisnis, apalagi Pertamina merupakan perusahaan negara.
 
"Harus mengikuti seluruh prosedur di internal maupun yang berlaku umum sesuai peraturan yang berlaku," kata Djoko.
 
Terkait dengan potensi investasi yang bisa terhambat, Djoko mengatakan hingga saat ini investasi di hulu Pertamina masih berjalan normal. Pertamina juga sebelumnya baru saja menandatangani terkait kontrak pengelolaan Blok Rokan.
 
Tahun ini Pertamina menggelontorkan investasi sebesar USD2,5 miliar atau sekitar Rp35,5 triliun untuk sektor hulu. Investasi itu meliputi minyak dan gas (migas) serta geotermal.
 
Jumlah ini mengalami penurunan dibanding target investasi di tahun lalu sebesar USD3,1 miliar. Namun dalam realisasinya pada tahun lalu investasi hulu yang terserap sebesar USD2,9 miliar.
 
Karen telah divonis delapan tahun penjara. Dia diyakini melakukan korupsi dalam investasi Blok Basker Manta Gummy (BMG). Selain tuntutan penjara, Karena juga didenda sebesar Rp1 miliar subsider empat bulan kurungan. Selain itu ia harus membayar biaya perkara Rp10 ribu.
 
Karen didakwa merugikan senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai Direktur Hulu Pertamina periode 2008-2009 dan Dirut Pertamina periode 2009-2014. Dalam investasi Pertamina terkait participating interest (PI) atas lapangan atau Blok BMG Australia di 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di Pertamina.
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya uji kelayakan serta tanpa adanya analisa risiko. Investasi ditindaklanjuti dengan penandatanganan sale purchase agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari Bagian Legal dan Dewan Komisaris Pertamina. Dia dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, pemilik Blok BMG Australia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif