Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.
Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.

Wamen BUMN Pertanyakan Pembangunan Kilang Pertamina

Ekonomi bumn pertamina ep
Annisa ayu artanti • 11 Februari 2020 20:45
Jakarta: Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunadi Sadikin mempertanyakan rencana pembangunan kilang PT Pertamina (Persero).
 
Ia khawatir perubahan peradaban terjadi begitu cepat sementara pembangunan kilang yang menelan biaya ratusan miliar itu masih lambat dilakukan. Menurutnya, ketika pembangunan kilang itu telat atau semakin molor dilakukan akan menjadi suatu hal yang sia-sia.
 
"Pertanyaan saya ke teman-teman Pertamina adalah kalau kita melihat sejarah Pertamina sebagai perusahaan energi, lihat juga sejarah peradaban energi. Energi itu juga mengalami infleksion," kata Budi di JCC, Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi menjelaskan selama ini Pertamina sangat mengandalkan kinerja perusahaan dari penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti pertamax, premium, dan diesel. Ketiga jenis BBM tersebut diproduksi dari kilang minyak yang dimiliki perusahaan. Jadi, jika pembuatan kilang tidak jadi-jadi dampak bagi perusahaan cukup besar.
 
"Kalau kita kita lihat revenue Pertamina sebagai BUMN terbesar 60 persen dari bahan bakar. Jualan Pertamax, Premium, Diesel. Mereka akan bangun, mereka akan spend Rp700 triliun sampai Rp800 triliun membangun kilang untuk memproduksi bahan bakar," jelas dia
 
"Pertanyaan saya selanjutnya, selama depresiasi dari Rp700 triliun-Rp800 triliun belum selesai dalam 30 tahun ke depan, apakah tidak ada perubahan sistem energi dari orang yang tadinya pakai BBM menjadi listrik?" tanyanya.
 
Namun ketika terjadi perubahan penggunaan energi dari energi fosil ke listrik diprediksi Pertamina akan kewalahan. Pasalnya, kata Budi, di Eropa dan Tiongkok sudah mulai ada transisi dalam penggunaan bahan bakar. Mereka mulai beralih dari energi fosil ke penggunaan energi yang ramah lingkungan seperti listrik.
 
"Jadi kalau itu (pembangunan kilang) belum terjadi, akibatnya adalah investasi Rp700 triliun itu menjadikan produk yang tidak akan dipakai oleh ratusan rakyat Indonesia," tukas dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif