Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Luhut: Sektor Energi Terdongkrak B20

Ekonomi energi neraca perdagangan indonesia biofuel
Nia Deviyana • 18 Maret 2019 11:32
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengakui sektor energi belum memberikan kontribusi yang signifikan untuk kinerja neraca perdagangan. Namun, dia menilai implementasi B20 sudah bagus.
 
"Kita sudah me-manage dengan baik, meski energi belum (berkontribusi) surplus. Tapi langkahnya sudah bagus dengan B20. Ke depan kita lanjutkan dengan B30 sampai B100," ujarnya usai menghadiri diskusi di Hotel Burobudur, Jakarta Pusat, Senin, 18 Maret 2019.
 
Sejak diperluas pemanfaatannya untuk kegiatan non public service obligation (non-PSO) atau nonsubsidi pada September lalu, pemanfaatan biodiesel 20 persen (B20) hampir menembus 100 persen di seluruh Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menko Perekonomian Darmin Nasution pun mengapresiasi kinerja tersebut. Jika dibandingkan dengan target yang mesti dicapai, realisasinya sudah melebihi target.
 
"Realisasinya sudah bagus 99,9 persen diukur berdasarkan realisasi dibandingkan dengan yang seharusnya," kata Darmin di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, awal bulan ini.
 
Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini mengatakan satu-satunya wilayah yang belum menerapkan yakni Krayan, Kalimantan Utara. Darmin mengatakan penerapan B20 di daerah tersebut terhambat oleh letak geografis yang tidak mudah dijangkau. Pasokan bahan bakar nabati (Fame) harus dikirim melalui pesawat terbang.
 
"Fame harus pakai pesawat sehingga kita kasih dia dispensasi pakai pertadex," tutur Darmin.
 
Dengan kesuksesan tersebut, pemerintah akan mendorong peningkatan kandungan BNN untuk dicampurkan ke solar. Selain itu, pemerintah juga akan memfokuskan penggunaan biodiesel ke beberapa pembangkit milik PLN, alutsista TNI/Polri serta alat-alat pertambangan milik Freeport Indonesia yang selama ini belum bisa menggunakan B20.
 
Sementara itu Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan dalam dua bulan pertama di 2019, Januari-Februari, penggunaan B20 mencapai 700 ribu kiloliter (kl).
 
"Hanya daerah perbatasan yang memang susah dicapai, tapi kecil sekali," tambah Paulus.
 
Sepanjang 2018, realisasi kebijakan B20 mencapai 86 persen. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan penyaluran B20 di 2018 sebesar 3,47 juta kl dari target penyaluran FAME sebesar 4,04 juta kl.
 
Rincian penyaluran B20 untuk PSO 2,72 juta kl atau 94 persen periode Januari hingga Desember 2018. Sedangkan penyaluran B20 untuk Non-PSO 758.072 kl atau 66 persen selama periode September sampai dengan Desember 2018.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia surplus USD329,5 juta pada Februari 2019. Surplus disebabkan ekspor yang tercatat sebesar USD12,53 miliar, sedangkan impornya sebesar USD12,2 miliar.
 
Neraca perdagangan yang mengalami surplus juga dipengaruhi harga komoditas baik migas maupun nonmigas yang membaik, salah satunya sawit sebagai bahan baku B20.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif