Solar. Foto : MI/RAMDANI.
Solar. Foto : MI/RAMDANI.

Pemerintah Pastikan Kuota Solar Subsidi Mencukupi

Ekonomi kementerian esdm Solar
Suci Sedya Utami • 18 November 2019 19:43
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kuota BBM Solar bersubsidi di tahun ini sebesar 14,5 juta kiloliter (KL) dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
 
Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto pun membantah adanya perkiraan kelebihan kuota solar bersubsidi. Ia bilang realisasi penyerapan Solar hingga Oktober pun sebesar 13,3 juta KL.
 
"Proyeksi itu ngaco semua. Sampai hari ini kuota masih ada 1,2 juta. Sampai Oktober serapannya 13,3 juta KL," kata Djoko di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin, 18 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Djoko menjelaskan jikalau nantinya ada kekurangan kuota, dalam aturan perundang-undangan ditegaskan, berapapun kebutuhan masyarakat harus dipenuhi agar tidak ada kelangkaan. Artinya Pertamina sebagai penyalur tetap harus siap siaga mengantisipasi kekurangan.
 
Djoko bilang stok BBM Pertamina masih mencukupi. Perusahaan pelat merah itu, kata Djoko, masih memiliki kelebihan stok Solar. Sementara itu dari sisi pemerintah, dia mengatakan, siap untuk membayarkan kelebihan tersebut. Namun tentunya harus menunggu audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 
"Kalau nanti setelah diperiksa BPK ada kelebihan, ya dibayar. Tidak masalah, efeknya cuma nambah subsidi," tutur dia.
 
Berdasarkan prognosa per Oktober 2019, konsumsi solar bersubsidi hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 11,34 persen lebih tinggi dari total kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar 14,5 juta KL pada tahun ini. Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), total penyaluran solar bersubsidi hingga Oktober 2019 sebanyak 13.387.040 KL.
 
Adapun estimasi over kuota solar batas bawah diperkirakan sebesar 963.624 KL, sementara batas atas 1.645.327 KL. Data penyaluran Oktober ini merupakan laporan badan usaha dan belum diverifikasi.
 
Di sisi lain, untuk mengantisipasi kelebihan tersebut, pemerintah pun akan menambah kadar campuran unsur nabati (fatty acid methyl eter/FAME) pada solar (Biodiesel) dari 20 persen (B20) menjadi 30 persen (B30) yang mulai diberlakukan sejak akhir November.
 
"Makanya ini tambahan B30-nya di mulai. Dengan adanya B30 itu kita sudah tidak perlu impor, dengan adanya itu tidak kurang," jelas Djoko.
 
Ditemui di tempat yang sama Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Andriah Feby Misnah mengatakan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM mengenai B30 telah keluar.
 
Feby mengatakan tambahan FAME untuk penerapan B30 sebanyak 72 ribu KL. Di sisi lain, FAME untuk B20 pun masih memiliki sisa. Dengan adanya sisa dan tambahan tersebut, maka total pasokan FAME yang masih ada hingga akhir tahun sekitar 200 ribu KL.
 
"Detailnya gini, kan kita sudah punya alokasi sampai 2019 desember sudah ada volumenya untuk delapan titik serah B20. Nah kita kan mau tambah jadi dia B30, kenaikan hanya 10 persen. Jadi yang kenaikan 10 persen itu 72 ribu KL, itu untuk Desember saja," jelas dia.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif