Ilustrasi. Foto: dok MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Rommy Pujianto.

Konsumsi Solar Subsidi Jebol 1,3 Juta KL hingga Akhir 2019

Ekonomi Solar
Suci Sedya Utami • 26 November 2019 18:58
Jakarta: PT Pertamina (Persero) membenarkannya konsumsi BBM subsidi jenis solar akan melebihi kuota yang telah ditetapkan sebesar 14,5 juta kiloliter (KL) hingga akhir tahun. Sebab kota tersebut akan habis pada November 2019.
 
Namun demikian Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan agar masyarakat tidak perlu khawatir terkait pasokan solar subsidi yang akan habis. Dia bilang pemerintah memastikan akan menambah kuota solar subsidi. Penambahannya rata-rata sebesar 20 persen di setiap daerah.
 
"Solar subsidi kalau kita lihat kuota ini realisasi penjualan akan lebihi kuota. Kalau dihitung kuota 2019 ini habis di akhir November," kata Nicke di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Selasa, 26 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditemui di lokasi yang sama, Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan kuota solar subsidi ditentukan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, jika kuotanya ditentukan sebesar 14,5 juta KL, maka bukan berarti produksi solarnya berhenti di angka tersebut.
 
Djoko bilang produksinya tetap berlanjut dan sehingga stoknya pun tidak akan habis begitu kuotanya telah habis. Djoko menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meski kuotanya telah habis. Apalagi dia bilang kebijakan biodiesel 30 persen sudah dimulai.
 
Djoko mengatakan hingga akhir Oktober, kuota solar subsidi yang tereserap yakni mencapai sekitar 13 juta KL sehingga jika dirata-rata serapan solar dalam sebulan yakni sekitar 1,3 juta KL. Sehingga, kata Djoko perkiraan overkuota untuk menutup konsumsi di Desember sekitar 1,3 juta KL.
 
"Pasokan tambahan lebih dari cukup. Seberapa pun kebutuhan masyarakat akan dikasih, jangan disalahgunakan," tutur Jonan.
 
Lebih jauh dia menambahkan pemerintah akan tetap menambahkan besaran subsidi berdasarkan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kelebihan kuota tersebut nantinya yang akan dikalikan dengan maksimum subsidi Rp2.000 per liter.
 
"Prinsipnya kebutuhan masyarakat terpenuhi, nanti BPK yang mengaudit. Nanti kelebihannya tinggal minta ke Kemenkeu, simpel kan," jelas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif