Pelet, bahan bakar pembangkit. Foto: Medcom.id/Ade Hapsari.
Pelet, bahan bakar pembangkit. Foto: Medcom.id/Ade Hapsari.

Sampah Disulap Jadi Bahan Bakar Pembangkit

Ekonomi pln energi terbarukan PLTU Jeranjang
Ade Hapsari Lestarini • 11 Februari 2020 20:15
Gerung, Lombok Barat: Plastik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Jenisnya yang merusak lingkungan ini membuat pemerintah gencar menyuarakan penggunaan antiplastik.
 
Lihat saja Kabupaten Klunkung, Bali. Warganya mendemo sang bupati untuk segera menyelesaikan permasalahan sampah yang terus menumpuk. Hal ini pun didengar PT PLN (Persero).
 
Menggandeng pemerintah daerah setempat, PLN memanfaatkan sampah yang kemudian menjadi pelet, sebagai pengganti bahan bakar pembangkit. Energi ini juga menjadi alternatif solusi penanganan sampah di daerah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah sukses di Bali, PLN bersama anak usahanya, PT Indonesia Power, mengembangkan penggunaan pelet sampah ini untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang berkapasitas 3x25 megawatt (mw) yang berlokasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.
 
PLH Manager PLTU Jeranjang Nandang Safrudin menjelaskan olahan sampah dalam bentuk pelet setara dengan batu bara kalori rendah yang digunakan untuk bahan bakar pembangkit.
 
"Kami sudah lakukan riset dan uji coba, khususnya untuk mengukur optimasi substitusi peletnya. Hasilnya antara 3-5 (persen), namun memang paling optimal ada di tiga persen," ucap Nandang, di lokasi PLTU Jeranjang, Gerung, Lombok Barat, Selasa, 11 Februari 2020.
 
Dia menjelaskan, jika menggunakan batu bara secara penuh, dalam satu jam kondisi maksimal, PLTU Jeranjang membutuhkan 200 ton batu bara sebagai bahan bakar. Dengan substitusi sebesar tiga persen, maka dibutuhkan 600 kilogram (kg) pelet setiap jam sebagai pengganti batu bara.
 
Untuk mendorong ketersediaan pelet guna kebutuhan PLTU Jeranjang, PLN saat ini telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok untuk mengubah sampah menjadi pelet.
 
"Tantangan kami memang menjaga ketersediaan pelet. Oleh karena itu kami bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan. Karena pelet untuk PLTU ini punya spesifikasi khusus," imbuhnya.
 
Melalui program JOSS, sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok dikumpulkan dalam bak, lalu dimasukkan cairan bio activator untuk dilakukan proses peuyeumisasi, kemudian sampah dijemur hingga kering.
 
Setelah itu, sampah dimasukkan ke mesin pencacah dan tahap akhir melalui proses peletisasi. Mesin-mesin yang digunakan merupakan bagian dari program CSR PLN. Usai berbentuk pelet, kemudian dijemur hingga kering. Selanjutnya, pelet bisa digunakan untuk campuran bahan bakar pembangkit listrik.
 
Sasaran pemanfaatan olahan sampah ini tidak hanya bertujuan untuk menurunkan biaya produksi listrik, tetapi juga sebagai alternatif solusi penanganan sampah daerah dan upaya memberdayakan masyarakat.
 
"Dengan olahan ini sampah bisa bernilai, masyarakat juga bisa punya penghasilan tambahan. Jadi ekonomi masyarakat sekitar juga meningkat," tambah Nandang.
 
Pengelola TPA Kebon Kongok, Dody, menyampaikan bahwa kehadiran pengolahan sampah sementara membantu mengurangi permasalahan sampah yang ada di Lombok.
 
"Sampah ini masih jadi salah satu masalah untuk Lombok, padahal tempat kami ini menjadi destinasi wisata. Dengan program dari PLN ini tentunya dapat menjadi solusi dan mewujudkan program zero waste yang diusung pemerintah Provinsi NTB," pungkas Dody.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif