Pekerja mengawasi pengoperasian mesin kilang minyak di Tuban, Jawa Timur. (Ilustrasi FOTO: ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Pekerja mengawasi pengoperasian mesin kilang minyak di Tuban, Jawa Timur. (Ilustrasi FOTO: ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Kilang Tuban Beroperasi, Kurangi Impor BBM 30%

Ekonomi kilang tuban
Annisa ayu artanti • 27 Mei 2016 10:33
medcom.id, Jakarta: PT Pertamina (Persero) menyatakan dengan beroperasinya Grass Root Refinery (GRR), Tuban, Jawa Timur dapat mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 30 persen. Hal itu sangat menguntungkan Indonesia karena mengurangi ketergantungan impor. Apalagi, kerja sama dengan Rosneft yang bergerak di onstream (operasi) akan lebih dipercepat satu tahun.
 
Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi mengatakan, menurut desain pembangunan kilang setelah beroperasi nanti akan memiliki kapasitas produksi mencapai 300 ribu barel per hari (bph). Kapasitas yang termasuk besar ini, hampir 80 persennya itu adalah Bahan Bakar Minyak (BBM).
 
Artinya, sekitar 240 ribu bph BBM akan diproduksi di dalam kilang yang pembangunannya memakan biaya hingga USD13 miliar ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi kalau 300 ribu (kapasitas kilang), kira-kira BBM-nya sekitar 80 persen, jadi kira-kira 240 ribu bph jadi mengurangi sejumlah itu," kata Rachmad, di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, seperti diberitakan, Jumat (27/5/2016).
 
Rachmad menjelaskan, dari produksi BBM tersebut setidaknya dapat mengurangi impor BBM sebanyak 30 persen. Itu menunjukkan kemandirian energi Indonesia semakin lama semakin baik.
 
"Dan itu setara dengan sekitar 30 persen impor BBM Indonesia," ucap Rachmad.
 
Ditambah lagi, dengan pembangunan kilang yang terbilang cepat. Rosneft menjanjikan desain pembangunan kilang Tuban lebih cepat tujuh hingga 12 bulan. Semula, target onstream kilang 2022 bisa dipercepat 2021.
 
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, dalam penandatanganan kerangka kerja yang dilakukan kemarin, Rosneft menawarkan untuk melakukan share knowledge untuk desain kilang tersebut.
 
"Rosneft juga tawarkan share yang pada beberapa kebutuhan knowledge termasuk desain di Kilang Baru Tuban bisa dipercepat 7 sampai 12 bulan," kata Dwi.
 
Dwi juga menuturkan peletakan batu pertama, studi kelayakan, serta joint venture akan dilakukan di 2016. Kemudian, pada 2017 akan dilakukan kegiatan engineering dan groundbreaking secara fisik. Sehingga pada 2018, Engineering Procurement Contract (EPC) dapat dilakukan.
 
"Dan kalau kita lihat tiga sampai empat tahun proyek ini akan selesai, 2021 kita sudah bisa onstream," ujar Dwi.
 
Dalam pembangunan kilang ini, Rosneft akan memasok minyak mentah de‎ngan porsi sebesar 45 persen sedangkan sisanya 55 persen. Kapasitas kilang Tuban ini diperkirakan mencapai 300.000 barel per hari dengan produksi gasoline sekitar 45 persen, diesel 30 sampai 35 persen, dan 15 persen untuk petrochemical.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif