Pemadaman listrik. Foto : MI/Erlangga.
Pemadaman listrik. Foto : MI/Erlangga.

Blackout Listrik di Indonesia Bukan yang Terparah

Ekonomi pemadaman listrik
Suci Sedya Utami • 18 September 2019 15:00
Jakarta: PT PLN (Persero) menyatakan blackout atau pemadaman total yang terjadi pada awal Agustus lalu di Indonesia bukanlah yang terbesar. Sebab banyak negara-negara lain yang mengalami kejadian serupa.
 
Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan tahun ini sudah lebih dari lima kejadian blackout melanda di beberapa negara. Yang terbesar, kata Iwan yakni di New York, Amerika Serikat.
 
"Indonesia bukan yang terbesar, yang besar itu di New York dan lama sekali," kata Iwan dalam sela acara Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) di Intercontinental Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu, 18 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada 13 Juli 2019, sekitar pukul 19.00 waktu waktu setempat, West Side Manhattan di Kota New York mengalami kegagalan daya listrik. Con Edison, perusahaan energi yang melayani listrik daerah tersebut, melaporkan sekitar 73 ribu pelanggan terkena dampak pemadaman listrik.
 
Mirisnya, pemadaman terjadi pada peringatan ke-42 New York blackout pada 1977, yang menyebabkan sembilan juta masyarakat tidak dapat mengakses listrik.
 
Iwan mengatakan dari sisi recovery atau pemulihan Indonesia jauh lebih cepat dibandingkan recovery blackout di New York. Dia bilang pemulihan di Indonesia berlangsung selama 36 jam namun secara bertahap. Sedangkan di New York mencapai 48 jam.
 
Iwan menjelaskan penanganan atau pemulihan sangat tergantung oleh keadaan pembangkit. Apabila pembangunan sudah mati total maka akan sulit untuk menghidupkan energi setrum.
 
"Memang kalau blackout lama recovery-nya. Kalau sudah meluas tentu lebih lama apalagi pembangkit-pembangkit besar sudah mati. Tapi tentu ini membuka mata kita bagaimana untuk memperbaiki defense scheme dengan beban puncak mencapai 27 ribu MW lebih di Jawa dan Bali," tutur Iwan.
 
Selain New York, Venezuela juga mengalami blackout pada 22 Juli 2019. Pemadaman listrik ini berdampak pada 24 negara bagian, termasuk ibukota Venezuela, Caracas.
 
Blackout tersebut memicu kerusuhan di jalanan ibu kota karena lampu merah dan sistem transportasi subway terhenti saat jam sibuk. Pemadaman juga menyebabkan ribuan warga Washington D.C. hidup tanpa listrik pada 27 Juli 2019 sore. Di saat yang bersamaan, suhu udara naik ke atas 90 derajat.
 
Selain itu, perusahaan listrik Kenya, Kenya Power, mengumumkan bakal ada pemadaman listrik bergilir yang akan berdampak pada 20 negara bagian mulai 6 Agustus 2019.
 
Menurut Kenya Power, gangguan listrik ini akibat adanya pemeliharaan fasilitas dan peningkatan saluran listrik ke jaringan. Ini juga dimaksudkan untuk menghubungkan pelanggan baru.
 
Kemudian wilayah Libya barat dan selatan juga mengalami pemadaman listrik. Perusahaan listrik Libya (GECOL) pada 3 Agustus 2019 mengatakan, pemadaman listrik terjadi akibat gangguan tiba-tiba dari beberapa unit gardu listrik. Yang terakhir blackout juga terjadi di Inggris pada 10 Agustus 2019. Akibatnya sejumlah layanan di seluruh negara Ratu Elizabeth itu pun terganggu.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif