NEWSTICKER
Ilustrasi kilang minyak di blok rokan. Foto: dok MI/Susanto.
Ilustrasi kilang minyak di blok rokan. Foto: dok MI/Susanto.

Pertamina Pertimbangkan Guyur Investasi Lebih Cepat di Blok Rokan

Ekonomi pertamina chevron Blok Rokan
Suci Sedya Utami • 22 Januari 2020 19:42
Jakarta: PT Pertamina (Persero) mempertimbangkan mengeluarkan investasi untuk membeli sebagian saham di Blok Rokan, yang saat ini pengelolaannya masih dimiliki oleh PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), meskipun pada 2021 Pertamina akan menjadi operator blok tersebut seutuhnya.
 
Pertimbangan tersebut didasarkan agar Pertamina bisa masuk lebih awal sehingga bisa langsung melakukan pengeboran. Hal ini dilakukan untuk mengatasi penurunan produksi di blok tersebut.
 
"Laju penurunan hanya bisa dilakukan dengan ngebor," kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Tajudin Noor menjawab pertanyaan Medcom.id di Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertimbangan tersebut juga sekaligus menjawab opsi yang disampaikan oleh Chevron terkait pendanaan untuk kegiatan pengeboran di masa transisi operator.
 
Menurut Tajudin, akan sangat sulit jika Pertamina mengeluarkan dana tanpa ada dasar kegiatan yang jelas. Dalam aturannya, apabila pendanaan berasal dari perseroan maka Pertamina harus memiliki saham partisipasi (participating interest/PI) dalam hak pengelolaan.
 
Tajudin mengatakan saat ini masih dalam tahap pembicaraan mengenai keikutsertaan tersebut. Ia berharap dalam waktu dekat Pertamina sudah bisa masuk untuk melakukan kegiatan pengeboran di Blok Rokan tanpa harus menunggu Agustus 2021.
 
"Begitu kita mau early chip in (masuk lebih awal) kita sudah siapkan dananya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini proses early chip in-nya, kita ingin nge-drive pengeboran sehingga nanti pada sat take over kita masih bisa jaga tingkat produksinya," jelas dia.
 
Sebelumnya, Chevron menyatakan tidak akan melakukan kegiatan pengeboran di Blok Rokan pada masa transisi pengelolaan ke Pertamina hingga Agustus 2021.
 
Presiden Direktur CPI Albert Simanjuntak mengatakan bahkan kegiatan pengeboran sudah tidak dilakukan sejak awal 2019. Dia bilang terakhir kali CPI melakukan pengeboran yakni pada 2018 sebanyak 89 sumur di blok tersebut. Albert mengatakan alasannya yakni karena dianggap sudah tidak ekonomis mengingat masa operasional CPI di Blok Rokan akan segera berakhir.
 
"Saat ini sudah tidak ekonomis untuk mengebor sumur," kata Albert dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 20 Januari 2020.
 
Ia bilang sebenarnya ada beberapa opsi sebelumnya terkait pengeboran tersebut. Pertamina CPI yang mendanai dan mengebor. Kedua CPI yang mengebor namun pendanaan dari Pertamina. Ketiga Pertamina yang mendanai dan mengebor.
 
Opsi pertama tentu saja gugur mengingat CPI telah menyatakan untuk melakukan pengeboran sudah tidak lagi ekonomis bagi pihaknya. Sehingga CPI tidak akan mengeluarkan investasi untuk mengebor. Sedangkan opsi lainnya dengan pendanaan dari Pertamina hingga saat ini, kata dia, masih dalam pembicaraan.
 
Kontribusi Blok Rokan sangat signifikan terhadap produksi minyak nasional. Jika tidak ada transisi alih kelola pada tahun ini maka hampir pasti dipastikan 2020 dan 2021 produksi Blok Rokan akan anjlok drastis. Bahkan bardasarkan kalkulasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) penurunan produksi bisa mencapai 20 ribuan barel per hari (bph).
 
Pada tahun 2020, produksi minyak Blok Rokan ditargetkan 161 ribu bph. Padahal dua tahun lalu atau di 2018, blok tersebut masih bisa produksi 210 ribu bph atau kedua terbesar setelah Blok Cepu, lebih dari seperempat dari total produksi minyak nasional saat ini. Produksinya kian menurut di 2019 realisasi sebesar 190 ribu bph.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif