Ratusan Pembangkit PLN tak Bisa Gunakan B20

Suci Sedya Utami 29 November 2018 10:03 WIB
plnbiofuel
Ratusan Pembangkit PLN tak Bisa Gunakan B20
Direktur Utama PLN Sofyan Basir. (FOTO: Medcom.id/Dian Ihsan)
Jakarta: Menko Perekonomian Darmin Nasution memanggil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dan PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

Darmin mengatakan pemanggilan keduanya terkait implementasi kebijakan biodiesel 20 persen (B20) yang dirasa masih kurang efektif. Sebab, kata Darmin, impor solar masih tetap tinggi.

"Kita mengecek sejumlah data karena impor solar agak naik, kita mau tahu mungkin ada kekurangefektifan (B20)," kata Darmin di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu malam, 28 November 2018.

Menurut laporan PLN, kata Darmin, penyerapan B20 untuk pembangkit listrik memang masih berkendala. Sebab banyak pembangkit PLN yang macet apabila menggunakan campuran B20.

"Yang macet apa, pembangkit di mana, kapan, kita minta datanya," tutur Darmin.

Sementara itu Sofyan menjelaskan memang ada beberapan pembangkit terutama aeroderivative yang tidak bisa menggunakan B20. Sofyan bilang pembangkit-pembangkit tersebut berada di daerah terpencil.

"Jumlahnya banyak sekali ratusan pembangkit di daerah terpencil dan kecil-kecil," kata Sofyan.

Adapun untuk daerah-daerah tersebut, menurut dia akan jauh lebih mahal biayanya apabila menggunakan B20. Misalnya di bagian timur Indonesia, di pedalaman Papua.

"Kan untuk membawa B20 ke sana sulit sekali, enggak efisien, akan jauh lebih mahal akhirnya biaya transportasi dan lain sebagainya. Makannya itu tetap pakai BBM," jelas mantan Dirut BRI ini.

Data Badan Pusat Statistik impor solar Indonesia pada Oktober 2018 melonjak 244,6 ribu ton (78 persen) menjadi 558,2 ribu ton dari bulan sebelumnya dan juga naik 69 persen dibanding Oktober 2017. Impor solar mencatat posisi tertingginya sebesar 693 ribu ton pada Agustus, sebulan sebelum diperluasnya mandatori B20. Sementara yang terendah pada September, yakni mulai diberlakukannya kebijakan perluasan B20.

Sebagai informasi, volume impor solar periode Januari-Oktober 2018 turun 0,76 persen menjadi 4,56 juta ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 4,6 ribu ton. Namun, nilainya mengalami kenaikan 29,11 persen menjadi USD2,87 miliar dari sebelumnya USD2,22 miliar. Naiknya harga minyak hingga ke USD80 per barel menjadi salah satu penyebab meningkatnya nilai impor solar sepanjang tahun ini.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id