Menteri ESDM Ignasius Jonan memulai uji coba penggunaan bahan bakar B30 pada sejumlah kendaraan. Foto: Dokumentasi Humas Kementerian ESDM.
Menteri ESDM Ignasius Jonan memulai uji coba penggunaan bahan bakar B30 pada sejumlah kendaraan. Foto: Dokumentasi Humas Kementerian ESDM.

Penggunaan B30 Bisa Tekan Impor Solar Rp70 Triliun

Ekonomi biofuel
Suci Sedya Utami • 13 Juni 2019 13:57
Jakarta: Kewajiban penggunaan campuran biodiesel 30 persen dengan solar atau B30 mulai berlaku tahun depan. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati Sebagai Bahan Bakar Lain, mandatori B30 akan berlaku pada Januari 2020.
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan pembangunan dan beroperasinya jalan tol. Namun di sisi lain, pasokan BBM tak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi bahan bakar tersebut.
 
Dalam sehari, jelasnya, Indonesia mengimpor BBM lebih dari setengah juta barel. Bila hal tersebut dibiarkan, maka membuat pembengkakan pada impor bahan bakar mencapaidua kali lipat dalam kurun waktu lima hingga enam tahun ke depan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Maka idenya kita campurkan fame (minyak kelapa sawit atau biodiesel) supaya neraca dagang kita tidak terlalu defisit untuk impor BBM," kata Jonan dalam peluncuran uji coba B30 di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Juni 2019.
 
Baca juga: ESDM Mulai Uji Coba Bahan Bakar B30
 
Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana mengharapkan mandatori B30 ini membuat konsumsi biodiesel dalam negeri pada 2025 akan meningkat hingga mencapai 6,9 juta kilo liter. Kondisi demikian bisamenghemat impor solar.
 
Pada 2018,konsumsi biodiesel telah mencapai 3,8 juta kilo liter, di mana implementasi B20 telah dilakukan secara luas. "Delapan sampai sembilan kilo liter akan kita hindari impor solar. Berapa nilainya? Dikalikan saja misalnya HIP (Harga Indeks Pasar) solar per liter Rp8.900. Kalau 8-9 kilo liter sekitar Rp70 triliun atau USD6 miliar," tutur Dadan.
 
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan pengembangan bahan bakar biodiesel merupakan program strategis pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi melalui diversifikasi energi dengan mengutamakan potensi energi lokal.
 
"Tak hanya itu, keberadaan program biodiesel nasional akan menghemat devisa, mengurangi ketergantungan impor BBM, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui hilirisasi industri kelapa sawit," jelas Dadan.
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif