Ilustrasi. Foto  : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Sumur Baru di Blok Mahakam Produksi Gas 16 MMSCFD

Ekonomi pertamina hulu energi
Suci Sedya Utami • 27 Oktober 2019 09:32
Balikpapan: PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menyatakan sumur baru MD-111 di Lapangan Mandu Blok Mahakam telah menghasilkan produksi gas sebanyak 17 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dan kondensat sebanyak 950 barel per hari (bph).
 
General Manager PHM John Anis mengatakan produksi tersebut memberikan berkontribusi yang cukup besar terhadap keseluruhan produksi di Blok Mahakam. Dia bilang hal inimerupakan bukti usaha tanpa henti oleh PHM untuk terus mengembangkan potensi-potensi di Blok Mahakam.
 
"Dan untuk itu kami mengerahkan segala daya upaya semaksimal mungkin, dengan terus mencari berbagai terobosan dan inovasi yang kreatif serta selalu mengutamakan keselamatan, efisiensi, dan pengambilan risiko yang terukur,” kata John, dalam keterangan resminya, Minggu, 27 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PHM memperkirakan pada minggu pertama November 2019, produksi gas dari sumur tersebut akan mencapai puncaknya yakni 35 mmscfd. Sumur tersebut pada 26 September lalu selesai dibor menggunakan jack-up Rig Tasha dengan mendapatkan hasil yang sangat baik berupa reservoir dengan total ketebalan 92 meter gas dan 19 meter minyak. Pengeboran sumur tersebut memiliki cadangan gas sebesar 20,7 miliar kaki kubik (Bcf) dan cadangan minyak mencapai 100 ribu barel.
 
Besarnya cadangan gas dari sumur ini merupakan positif bagi Blok Mahakam yang sudah masuk fase penurunan produksi alamiah (natural decline). Sebab semula ketebalan reservoir yang diprediksi dari MD-111 adalah 25 meter gas dengan cadangan gas lima (Bcf).
 
Temuan positif pada sumur ini pun menyusul keberhasilan sumur MD-109 di panel yang sama, yakni di Mandu Central Panel, pada 2018. Proses untuk memutuskan untuk mengebor sumur di Mandu Central Panel, lanjut John bukan hal mudah mengingat kompleksitas kondisi geologi di Lapangan Mandu.
 
Kompleksitas ini dikarenakan adanya patahan-patahan yang memisahkan Lapangan Mandu menjadi beberapa panel yang memberikan akumulasi hidrokarbon yang berbeda, sehingga sulit untuk memastikan apakah sumur yang akan dibor ini berada di ladang gas atau ladang minyak. Kajian bawah permukaan bumi (sub-surface) yang komprehensif oleh tim PHM akhirnya mampu mengidentifikasi potensi kandungan hidrokarbon di masing-masing panel tersebut.
 
Kajian ini sangat krusial mengingat fasilitas di platform MD1 yang berada di East Mandu Panel lebih dikhususkan untuk gas dan bukan minyak. Tim PHM mengebor sumur MD-111 dengan menggunakan kepala sumur dari platform MD1 yang berjarak 2,5 km dari sumur.
 
Aktifitas pengeboran ini diselesaikan dengan durasi yang lebih singkat dibanding operasi sejenis, karena para engineer di PHM membuat inovasi dengan mengurangi jumlah casing string (pipa pembungkus yang diturunkan ke lubang pengeboran kemudian disemen untuk mengamankan sumur) yang biasa berjumlah empat menjadi tiga.
 
Sebelumnya untuk pengeboran sumur di Mandu selalu dipasang empat casing (heavy architecture) guna mengamankan aspek shallow gas hazards (terjadinya semburan gas yang tak terkendali dari sumur-sumur dangkal) dan total losses (karena melewati lapisan batuan gamping yang cukup tebal).

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif