Dirjen Anggaran Kemenkeu Askolani (Metro TV)
Dirjen Anggaran Kemenkeu Askolani (Metro TV)

Kemenkeu Sebut Perhitungan Kenaikan Subsidi Solar Berlaku Surut

Ekonomi solar thermal solar subsidi Subsidi Solar
Suci Sedya Utami • 26 Juli 2018 10:37
Jakarta: Pemerintah di tengah tahun ini telah memutuskan untuk menaikkan alokasi anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dari Rp500 menjadi Rp2.000 per liter. Kenaikan tersebut mengikuti pergerakan harga minyak dunia yang dari waktu ke waktu terus berada di level yang tinggi.
 
Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga jual BBM demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, kondisi ini berdampak terhadap neraca keuangan PT Pertamina (Persero). Tentu ada harapan agar postur keuangan Pertamina tidak terganggu dalam rangka menjaga momentum terwujudnya ketahanan energi di Indonesia.
 
Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani menjelaskan kenaikan subsidi BBM jenis solar berlaku surut atau bisa diperhitungkan sejak awal tahun sehingga nanti akan ditotal secara keseluruhan tahun berjalannya anggaran.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bisa diperhitungkan sejak awal tahun karena memang harga minyak sudah relatif tinggi dari perkiraan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan selisih subsidinya sudah terjadi," kata Askolani, kepada Medcom.id, melalui pesan singkat, di Jakarta, Kamis, 26 Juli 2018.
 
Namun demikian, ia menegaskan, pembayaran keseluruhan tersebut akan dilakukan sesuai audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di samping pemerintah menjalankan kewajiban rutin untuk membayarkan subsidi yang ditagih setiap bulan, misal, untuk subsidi di Januari dibayarkan di Februari.
 

 
"Ya nanti diverifikasi bila sudah ada penetapan dari pemerintah dan ditagihkan oleh Pertamina," jelas Askolani.
 
Secara terpisah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengaku telah menerima laporan keuangan Pertamina. Namun, Arcandra tidak mau membeberkan secara rinci.
 
Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman menegaskan, kondisi keuangan perusahaan hingga saat ini dalam kondisi aman. Dirinya menepis dugaan kebangkrutan yang terlihat dari kerugian pada neraca keuangan perusahaan yang mencapai USD1,2 miliar atau setara Rp17,4 triliun hingga Juli 2018 karena penjualan BBM.
 
"Pertama kita enggak bangkrut. Enggak rugi, clear kan," tegas Arief.
 
Arief menambahkan kondisi keuangan semester I masih mencatatkan laba, namun dirinya belum bisa menyebutkan apakah laba tersebut mengalami kenaikan atau penurunan. Meski diakui pendapatan di kegiatan hilir mengalami penurunan, tetapi ia memastikan secara total neraca keuangan berada di arah yang positif.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif