Plt Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto menjelaskan, akibat rugi selisih kurs yang mencapai Rp45,7 triliun maka perusahaan listrik plat merah ini harus mengalami rugi sebesar Rp27,4 triliun. Tidak ditampik kerugian ini terbilang begitu besar.
"Pada kuartal III-2015, PLN mengalami rugi bersih sebesar Rp27,4 triliun terutama karena adanya rugi selisih kurs sebesar Rp45,7 trilliun akibat menurunnya nilai tukar rupiah terhadap USD," jelas Bambang, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (28/10/2015).
Pada penyusunan anggaran, kurs rupiah terhadap USD per 31 Desember 2014 tercatat sebesar Rp12.440 per USD, sedangkan per 30 September 2015 kurs rupiah mencapai Rp14.657 per USD. Sementara berdasarkan data pada website resmi PLN tahun lalu, perusahaan plat merah mencatat laba bersih yang meningkat menjadi Rp15,3 triliun.
Menurut Bambang, kondisi seperti ini berdampak pada utang valuta asing (valas) milik PLN yang mengalami peningkatan signifikan. Untuk itu, PLN akan mengurangi beban operasi akibat mata uang rupiah yang terdepresiasi terhadap mata uang asing, seperti dilakukannya lindung nilai.
"Perusahaan mulai April 2015 telah melakukan transaksi lindung nilai atas sebagian kewajiban dan utang usaha dan valuta asing yang akan jatuh tempo," tutup dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News