Gedung Pertamina (Foto: Setkab)
Gedung Pertamina (Foto: Setkab)

Chevron Belum Berminat Jadi Mitra Pertamina

Ekonomi pertamina chevron Blok Rokan
Suci Sedya Utami • 22 Mei 2019 07:15
Jakarta: PT Chevron Pasific Indonesia belum berminat untuk ikut bermitra (joint operation) dengan PT Pertamina (Persero) mengelola Blok Rokan setelah 2021. Saat ini Chevron yang merupakan kontraktor aktif di blok tersebut fokus membantu proses transisi pada kontraktor terpilih selanjutnya yakni Pertamina.
 
VP Corporate Affairs CPI Wahyu Budiarto membenarkan hal tersebut. Apalagi, lanjutnya, hingga kini belum ada pembahasan mengenai arah untuk bermitra. "Itu tidak menjadi pembahasan. Saat ini fokusnya adalah (membantu) Pertamina yang akan ambil alih," kata Budi di kantor Chevron, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 21 Mei 2019.
 
"Kami mau memastikan bahwa Pertamina tidak memulai dari nol, tapi bisa melanjutkan apa yang sudah kami buat," tuturnya seraya menambahkan bahwa transisi tersebut dibutuhkan untuk memastikan agar operasi dan produksi Blok Rokan ketika dikelola oleh kontraktor baru tidak terganggu dan menurun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi bilang proses transisinya saat ini cukup maju. Ia menilai masih banyak waktu yang dimiliki untuk melakukan proses transisi hingga di 2021 di saat Pertamina resmi mengambilalih pengelolaan Blok Rokan dari Chevron yang sudah 50 tahun mengelola.
 
"Kami sudah bentuk staring tim untuk transisi ini. Kerjas ama dengan manajemen Pertamina dan SKK Migas dan kami. Lalu ada working tim di bawahnya. Niatan kami agar smooth," jelas dia.
 
Sebelumnya PT Pertamina (Persero) membuka peluang untuk bekerja sama dengan pihak lain untuk mengelola Blok Rokan yang merupakan blok migas terbesar di Tanah Air. Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan peluang tersebut terbuka lebar bagi siapapun termasuk Chevron Pacific Indonesia yang menjadi pengelola Blok Rokan hingga 2021.
 
Seperti diketahui Pertamina terpilih untuk menjadi pengelola Blok Rokan mulai 2021 hingga 2041 atau selama 20 tahun. "Terbuka dengan siapa pun," kata Nicke, seraya mengatakan dalam memutuskan untuk mengandeng partner tujuannya yakni memitigasi risiko. Setidaknya ada dua risiko yang perlu dimitigasi.
 
Pertama risiko teknologi. Dalam mengelola Rokan, Pertamina menjanjikan untuk menggunakan Enhanced Oil Recovery (EOR) yakni sebuah metode yang digunakan untuk memperoleh lebih banyak minyak setelah menurunnya proses produksi primer dengan menggunakan energi alami yang berasal dari reservoir itu sendiri atau dengan kata lain teknik pengurasan minyak.
 
"Karena sumur Rokan ini belum ditaklukan maka cari partner dalam rangka meningkatkan menjadi lima kali lipat dari hari ini, kita masih pelajari mitigasi teknis ini apakah bisa sendiri atau dengan partner," ujar Nicke.
 
Risiko kedua yakni terkait pendanaan. Mantan Direksi PLN ini mengklaim banyak pihak yang telah menyatakan ketertarikan untuk bekerja sama dengan Pertamina.
 
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan batas waktu yang diberikan pemerintah untuk Pertamina mencari mitra yakni sebelum perusahaan energi Tanah Air tersebut secara resmi mengelola Blok Rokan di Agustus 2021.
 
"Wajib mencari mitra sebelum alih kelola 8 Agustus 2021," pungkas Jonan.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif