salah satu persoalan selain tentunya persoalan dari serapan indsutri dalam negeri melalui pembangunan Power Plant yang terhambat akibat dari pembangunan ekonomi yang melambat.
Analis Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan ancaman datang dari pelemahan perekonomian Tiongkok yang membuat industri batu bara mengalami kekurangan permintaan. Gejala ini sudah dimulai dari
20 persen perusahaan batu bara dari 700-800 perusahaan yang mengalami gulung tikar.
Dia mengatakan hal ini akan belanjut karena dari sisi ekspor ke pasaran dunia, industri batu bara mengalami persoalan dari isu lingkungan.
“Isu lingkungan membuat pelaku industri beralih kepada gas alam yang jauh lebih murah dan sehat,” kata dia kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Minggu (9/8/2015).
Analis dan Direktur PT Ekuilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim menuturkan sangat berat bagi industri batu bara untuk merangkak naik karena harganya masih terlalu rendah dengan harga USD50 per ton padahal harga
Break Event Point (BEP) Batu bara diatasnya.
“Harga batu bara idealnya mencapai USD90 per ton jadi sangat sulit untuk balik modal,” kata dia.
Dia mengatakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan industry batu bara adalah dengan memakai serapan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk mengkonsumsi batu bara.
Perekonomian yang sedang melambat mebuat serapan domestik pun tidak maksimal. Sehingga menurut dia industri ini sebaiknya menutup operasional untuk mengurangi biaya-biaya yang merugikan perusahaan. Kemungkinan untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga semakin besar akibat dari perlambatan ekonomi yang terjadi. Dia mengatakan sudah ada 50 persen dari pelaku tambang yang mengalami PHK dari sebelum lebaran.
“Ini kami dapatkan dari survey kepada 1 juta karyawan di tambang batu bara,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News