PT Pertamina EP menyatakan produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) pada tahun lalu berada di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.
PT Pertamina EP menyatakan produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) pada tahun lalu berada di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Lifting Migas Pertamina EP di Bawah Target APBN

Ekonomi migas pertamina
Suci Sedya Utami • 04 Februari 2020 17:30
Jakarta: PT Pertamina EP menyatakan produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) pada tahun lalu berada di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.
 
Dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi VII DPR DI, Presiden Direktur Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menyebutkan target dalam APBN untuk lifting minyak sebesar 85 ribu barel per hari (bph). Sedangkan untuk gas sebesar 768 juta standar kaki kubik (mmscfd).
 
"Realisasinya minyak 82 ribu barel per hari atau 96,7 persen dari target dan gas 749 mmscfd atau 92,5 persen," kata Nanang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan penyebab lifting gas tidak tercapai yakni karena masalah penyerapan oleh pembeli yang menurun. Misalnya saja gas dari Lapangan Donggi-Matindok. Ia bilang karena gas alam cair atau (liquefied natural gas/LNG) di pasar spot menurun sehingga membuat penurunan produksi dalam empat bulan terakhir sejak Agustus.
 
"Bukan karena produksi, tapi penyerapannya yang menurun. Pembeli menurunkan daya serapnya," kata Nanang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020.
 
Namun demikian jika dibandingkan dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP), anak usaha PT Pertamina (Persero) itu berhasil mencapai target lifting migas.
 
Produksi minyak tahun lalu sebesar 82.213 bph. Sedangkan produksi gas sebesar 959 mmscfd. Sementara lifting minyak berada di angka 82.190 bph atau 102 persen dari target dalam RKAP yang sebesar 80.733 bph serta lifting gas sebesar 749 mmscfd.
 
Nanang mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari kinerja pengeboran di 2019. Untuk pengeboran lapangan ekplorasi sebanyak 11 sumur dan untuk eksploitasi sebanyak 99 sumur.
 
Lebih lanjut dia mengatakan akibat lifting yang tidak tercapai maka berpengaruh pada laba bersih yang dibukukan sebesar USD639 juta. Lebih rendah dari target yang sebesar USD756 juta.
 
"Secara keuangan juga tidak tercapai karena Ini karena harga ICP asumsi kan USD70 per barel, realisasinya USD63 dolar per barel. Jadi deviasinya besar," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan tahun 2020, Pertamina EP menargetkan pendapatan sebesar USD3,8 miliar sehingga bisa mencetak laba bersih yang ditargetkan meningkat menjadi USD807 juta.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif