Ekonom Sarankan Rencana <i>Holding</i> Migas Ditinjau Ulang
Ekonom Faisal Basri (kiri) (ANT/Rosa Panggabean).
Jakarta: Skema pembentukan perusahaan induk (holding) sektor minyak dan gas bumi (migas) tengah digodok Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun rencana akuisisi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) oleh PT Pertamina (Persero) ini disarankan untuk ditinjau ulang.

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai kebijakan holding migas dikhawatirkan membawa dampak negatif terhadap bisnis migas Tanah Air.

"Saya enggak bilang enggak perlu, tapi ada cara yang lebih cocok untuk setiap industri. Ada ruang untuk meninjau kembali," katanya dalam Outlook Ketahanan Energi untuk Mendukung Pertumbuhan Industri Nasional 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu, 13 Desember 2017.

Menurutnya skema holding kurang cocok bagi industri migas karena bakal membebani perusahaan yang sudah sehat untuk menampung perusahaan lainnya. Terlebih PT Pertamina sebagai induk Holding memiliki proyek yang sangat kompleks.

"Maka Pertamina disehatkan saja, jangan yang malah udah sehat malah masuk ke yang tidak sehat," imbuh dia.

Faisal menambahkan pembentukan holding kurang diperlukan lantaran Indonesia sudah memiliki super holding yakni Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM. Lewat keduanya, semua perusahaan migas dan tambang pelat merah bisa dikendalikan.

Tanpa holding migas, kata Faisal, harga gas di Indonesia ditentukan oleh pemerintah lewat Kementerian. Dengan begitu efesiensi pengurangan harga dari pembentukan holding tak efektif. Berbeda dengan Singapura yang membentuk holdingnisasi karena tak memiliki dua kementerian tersebut.

"Holding untuk menurunkan harga kan sudah kompetitif harga gas USD6  tanpa holding sehingga kalau kita lihat harga siapa yang tentukan pemerintah lewat SKK Migas dan Kementerian ESDM. kita sudah punya induk holding,  super holding migas Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM," ungkap dia.

Terkait dengan Pertamina yang belum tentu menyambut baik peleburan  Pertagas ke PGN,  Faisal menyarankan keduanya untuk melakukan tukar guling anak perusahaan.

"Ya sudah tukar guling saja," imbuh dia.

Seperti diketahui, Kementerian BUMN berencana membentuk holding BUMN Migas, yakni dengan melebur PGN dan PT Pertamina (Persero). Rencananya, Pertamina akan ditunjuk sebagai induk holding Migas dengan realisasi holdingnisasi pada kuartal I-2018.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id