Ilustrasi. Antara/Seno S
Ilustrasi. Antara/Seno S

Pengamat Indef: Tak Perlu Revisi Harga BBM Bersubsidi

Anshar Dwi Wibowo • 13 Desember 2014 15:52
medcom.id, Jakarta: Direktur Institute for Development Economy and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan, pemerintah sebaiknya konsisten dengan kebijakan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Tidak perlu melakukan revisi harga atau menggulirkan subisdi tetap mengacu turunnya harga minyak mentah dunia.
 
"Sudah mengambil kebijakan ya konsisten, sekarang tinggal mengerjakan PR (pekerjaan rumah) yang harus dilakukan," ujar Enny melalui sambungan telepon, Sabtu (13/12/2014).
 
Enny mengungkapkan, pasar sudah mulai melakukan perhitungan dari dampak lanjutan atau second round effect. Pun, lanjutnya, jika harga BBM bersubsidi diturunkan tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi.

"Kan sudah kalkulasi, jadi kalau dikoreksi itu namanya trial and error. Saya tidak setuju kalau direvisi," katanya.
 
Enny menjelaskan, dalam jangka panjang harga energi yang bersumber dari fosil akan terus naik. Apalagi penurunan harga minyak dunia saat ini lebih disebabkan kepentingan politik yang terkadang tidak bisa diduga.
 
Sekedar informasi, harga minyak merosot ke level terendah sejak Juli 2009. Pada Kamis waktu New York, Amerika Serikat, harga minyak mentah light sweet tenggelam di bawah USD60 atau tepatnya USD59,29 per barel. Sementara harga minyak mentah brent masih bertahan di kisaran USD63 per barel.
 
"Harga minyak saat ini didominasi kepentingan politik, masalah perebutan internasional atau menyiasati pertarungan global yang bahkan kita tidak habis pikir bisa menembus USD50," katanya.
 
Oleh karenanya, Enny mengatakan, pemerintah sebaiknya memanfaatkan tambahan anggaran dari hasil pemangkasan besaran subsidi dan penurunan harga. Meski diakuinya, harga BBM bersubidi saat ini mungkin sudah di atas harga ekonomis.
 
Dia menuturkan, pemerintah mesti memperbaiki transportasi umum. Langkah yang dilakukan bisa dengan pemberian insentif keringanan pajak atau kemudahan perizinan bagi pelaku usaha jasa transportasi. Di sisi lain, tambahan anggaran dari penghematan subsidi BBM mesti disalurkan ke hal-hal produktif.
 
"Penghematan lebih besar harus direalisasikan ke anggaran yangg jauh lebih produktif untuk sektor riil," tuturnya.
 
Sebelumnya diberitakan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil tengah menyiapkan sejumlah opsi terkait turunnya harga minyak mentah dunia. Opsi yang dipertimbangkan ialah merevisi harga BBM dan pemberian subsidi tetap.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WID)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan