Seperti diketahui saat holding terbentuk pada 11 April 2018 lalu, PGN masuk menjadi anak usaha Pertamina dengan kondisi keuangan tidak sehat. Laba bersih PGN turun sejak 2013-2017. Di 2013 laba bersih sebesar USD838 juta, 2014 sebesar USD711 juta, 2015 sebesar USD403 juta, 2016 sebesar USD304 juta, dan di 2017 sebesar USD98 juta.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan mengenai mitigasi keuangan dan bisnis tim transaksi dan operasi yang diketuai oleh Direktur Keuangan Arief Budiman telah melakukan uji tuntas (due dilligence) yang rencananya akan diselesaikan akhir minggu ini.
"Kami sudah lakukan due diligence yang akan diselesaikan akhir minggu ini. Tim due diligence yang diketuai direktur keuangan. Dimana dalam hal ini kami mengidentifikasi seluruh risiko-risiko yang ada dan bagaimana mitigasinya," jelas Nicke dihadapan Komisi VI DPR-RI, di Komplek Parlementer Senayan, Jakarta, Rabu, 25 April 2018.
Salah satu mitigasi yang dilakukan holding migas adalah dengan melakukan integrasi antara PGN dengan anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas). Menurutnya, penggabungan dua anak usaha yang bergerak disektor gas ini akan memberikan dampak positif bagi bisnis holdinh. Terutama mitigasi dalam risiko tumpang tindih pipa transmisi dan distribusi.
"Dengan integrasi aset PGN dan Pertagas ini kalau kita lihat dari Sumatera dan Jawa ini semakin nyambung. Selama ini kan belum match kalau kita integrasikan ini menjadi satu, pipa transmisi dan distribusi," kata Nicke.
Selain itu, dengan digabungnya aset Pertagas dan PGN diharapkan akan mempermudah pemenuhan terhadap permintaan minyak masyarakat.
"Jadi kami melihat ini dapat menjadi peluang mitigasi ketika aset-aset Pertagas diintegrasikan dengan aset PGN dalam memenuhi kebutuhan dan demand dari customer," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News